Selamat Datang di Blog Didik Harianto

Yang Terserak di Ujung Penaku…

Banjir, (Square di Kota Malang) dan Penanggulangannya

Posted by didikharianto pada Januari 1, 2007

Setelah mengikuti Diklat Jurnalistik di Kampus. Sabtu, 11 Februari 2006 saya pulang ke rumah orang tua di kawasan Purwosari, Pasuruan. Sesampainya di Jalan A. Yani Blimbing saya sedikit kaget dengan adanya “pagar” dari seng yang terletak di kiri jalan arah ke Surabaya, disitu terpampang jelas tulisan “Panorama Square”. Wah, ada Mall lagi nih di Malang, kataku pelan.

Minggu sore 12 Februari, saya pun kembali ke Malang, karena besoknya saya harus kembali kuliah, sesampainya di pertigaan Jalan Raden Intan, gerimis mulai membasahi bumi kota Malang, dan lebat sekali ketika sampai di kawasan Celaket. Saya tetap memutuskan untuk melajukan motor dengan harapan cepat-cepat sampai di Kos, karena tugas-tugas dari dosen untuk keesokan harinya sudah menunggu untuk dikerjakan.

Di pertigaan depan SMKN 3 Malang dan Kantor Bea Cukai (Jalan Surabaya), saya melihat genangan air setinggi satu meter, karena saya pikir sudah dekat dengan kos saya di Jalan Terusan Ambarawa, saya memutuskan untuk tetap melewati genangan tersebut dengan menuntun motor saya, tentunya dengan mesin yang sudah saya matikan. Karena melihat saya kesulitan menuntun motor saya, beberapa pekerja bangunan di SMKN 3 Malang menyarankan saya untuk menepi dulu sambil menunggu hujan reda. Setelah itu, saya melihat banyak motor yang nekat melewati genangan setinggi plat nomor polisi di motor 125 cc saya itu, meskipun dengan konsekuensi motor mereka harus mogok kemudian, beberapa taksi pun juga nekat melewati genangan yang saya lihat merupakan kiriman dari Jalan sebelah kantor Bea Cukai (Jalan Blitar).

Hujan pun sedikit reda, saya mencoba menghidupkan motor dengan menekan double starter, tapi motor saya tidak bisa hidup, akhirnya saya putuskan untuk menuntun motor saya sampai di depan sekretariat salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa yang saya ikuti, dengan dibantu teman jebolan Teknik Mesin angkatan 1999 saya mencoba menghidupkan kembali motor setelah mengutak-atik busi dan lain-lain, “mene mbengkel ae, jess….”, kata teman itu dengan logat Malangannya yang begitu kental, yang berarti “Besok dibawa ke Bengkel saja…”

Sudah menjadi kebiasaan saya sehari-hari, ditambah dengan karena mendapat tugas mata kuliah “Membaca Ekstensif”. Sebelum berangkat ke Malang, paginya saya membeli Koran Jawa Pos, di pojok halaman Olahraga (halaman 38), saya melihat iklan “Panorama Square”, berisi Pre Launching 11 & 12 Februari 2006 di salah satu hotel ternama di Malang. Oh, Square yang di Jalan A. Yani itu, pikirku. Saya pun teringat perjalanan saya 11 Februari kemarin.

Pembangunan “Panorama Square” semakin menguatkan indikasi akan berubahnya predikat kota Malang sebagai “Kota Mall”, bukan lagi “Kota Pendidikan Internasional” seperti yang selama ini didengung-dengungkan pemuka civitas akademika di kota ini. Masih teringat jelas, bagaimana aktifis dari berbagai Universitas di kota ini menolak dengan keras pembangunan Malang Town Square, dilanjutkan dengan adanya mega proyek “Malang Olympic Garden” dengan dalih “hanya” untuk menyambut even Liga Champion Asia, dan sekarang, “Panorama Square”. Pemerataan perekonomian adalah alibi pemerintah kota. Memang benar, dengan pembangunan “Panorama Square” akan “meratakan” peta perekonomian di Malang, tidak lagi berpusat di tengah kota Malang. Tapi juga di Malang Utara. Tapi, dengan harga stan termurah seharga enam ratus juta rupiah, mampukah pedagang kecil di sekitar tempat itu membelinya?. Tampaknya para kapitalis akan semakin menancapkan kukunya di kota ini.

Budaya hedonis masyarakat Malang juga mau tidak mau (atau bahkan mau sekali) menyeret mahasiswa ke lingkungan hedonis pula. Sungguh sebuah ironi, ketika saya pernah mendengar cuplikan perkataan salah satu mahasiswi di Malang, “Nanti saja ya ngerjain tugas Pak Mahfudz, aku mau nonton dulu di twenty one terus ke salon..”. Semakin jarang bisa ditemui komunitas mahasiswa yang mengerjakan tugas bersama sepulang kuliah, berdiskusi membicarakan struktural pemerintahan, ataupun pemerintahan yang ideal. Kalaupun ada, sangat sedikit sekali jumlahnya. Mereka (mahasiswa) tampaknya lebih suka menghambur-hamburkan uang dan bersifat apatis terhadap sekitarnya daripada bersifat kritis yang (dulu) sempat menjadi trade marknya mahasiswa.

Pemerintah kota sendiri pun sepertinya lebih memprioritaskan perizinan pembangunan Malang Olympic Garden, Panorama Square, dan lain-lain yang menyangkut prestise kota Malang. Head line Radar Malang Minggu 12 Februari pun memuat “Peni Cambuk Dinas Pasar” yang berorientasi kepada agar bagaimana kota Malang kembali meraih Adipura. Peni Suparto, sebagai Wali Kota Malang Maret nanti akan mengoperasikan tiga buah truk pengangkut sampah. Sungguh, sebuah “permainan yang cantik” dari seorang Peni. Dengan logika saja, apakah dengan mengoperasikan tiga buah truk pengangkut sampah akan bisa mengatasi permasalahan sampah pasar-pasar di Malang yang jumlahnya tidak hanya satu pasar saja ? Apalagi pelaksanaannya baru bulan Maret nanti, padahal, banjir sudah sekian lama mengakrabi warga Malang. Pada perkuliahan “Membaca Ekstensif” Senin, 13 Februari kemarin, dosen saya bilang, “khan, bisa saja itu cuma cara untuk “menaikkan” nama Peni agar dipilih lagi menjadi Wali Kota. “.

Betapa sebuah ironi jika nantinya Malang mendapat Adipura namun masih didapati banjir disana-sini apalagi di tempat yang dekat sekali dengan kawasan hijau Jalan Ijen. Seharusnya, pemerintah kota juga harus memperhatikan keseimbangan daerah resapan, sehingga bisa diminamilisir atau bahkan dihilangkan “budaya” banjir di kota Malang. Disadari, penanggulangan banjir tidak hanya bisa dilakukan jika hanya melibatkan satu atau dua instansi pemerintahan saja. Seperti perkataan teman waktu perkuliahan senin itu, “Yang perlu dilakukan adalah pemulihan mental masyarakatnya terlebih dahulu, bagaimana masyarakat disadarkan tentang pentingnya turut serta menanggulangi banjir. “

Saya setuju dengan pendapat teman yang berasal dari Gresik itu, peran serta masyarakat sangat diperlukan untuk penanggulangan banjir. Saya teringat dengan 3M nya KH. Abdullah Gymnastiar, “ Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang terkecil, dan, Mulai dari sekarang.“. Ya, kita tidak perlu muluk-muluk mencanangkan sebuah program (yang terkesan) nirlogika, mulailah dari sekarang memanage diri sendiri tentang pentingnya sebuah kebersihan, mulailah membuang sampah di tempatnya saja dulu, dan yang terpenting, mulailah dari sekarang. Maka niscaya akan terbentuk sebuah lingkungan yang sehat, dan semoga, bebas banjir.

Senin siang, 13 Februari sepulang kuliah, saya menyempatkan menulis ini, kemudian saya pergi ke bengkel resmi motor saya, dan untuk mengganti onderdil yang aus (karena kebanjiran kemarin), saya harus mengeluarkan uang sebesar enam puluh ribu rupiah, jumlah yang cukup besar untuk seukuran anak kos seperti saya.

About these ads

8 Tanggapan to “Banjir, (Square di Kota Malang) dan Penanggulangannya”

  1. Adzrin said

    sila buka laman ini :

    http://nii-alzaytun.blogspot.com

    cakap seru !!!

  2. santos said

    iyo podo ae sakiki … malah tambah puanas bgt, sekaarang malah suhu malang kadang sama persis dengan blitar/tulungagung… heheh. podo panase… ( sama panas nya )

  3. santos said

    panas ker !!! san_dsx@telkom.net

  4. Woro said

    kalo ada kekeliruan, kalo bukan diri sendiri yang nyadarin dan mbenerin, trus siapa lagi???

  5. Abdul halim said

    Banjir banjir
    warga malang agar waspada dan mari kita berbenah belajr disiplin untuk membuang sampah sembarangan apalagi di selkkan dan sungai

  6. Abdul halim said

    Banjir banjir
    warga malang agar waspada dan mari kita berbenah belajar disiplin untuk tidak membuang sampah sembarangan apalagi di selokan dan sungai

  7. lutfi said

    lho malang kok skarang jadi puanas yo…
    ayo arek malang mana kontribusinya ke daerah sendiri…
    di tunggu ya…

  8. lutfi said

    katanya sekarang malang banjir??
    pa daerah resapannya dan jadi industri yaa??
    industri boleh maju tapi daerah resapan juga harus diperhatikan ya rek!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: