Selamat Datang di Blog Didik Harianto

Yang Terserak di Ujung Penaku…

Pengertian Gaya dalam Perspektif Kesejarahan dan Hubungannya terhadap Karya Sastra Kumpulan Cerpen “Perempuan Semua Orang” Karya Teguh Winarsho AS.

Posted by didikharianto pada Januari 1, 2007

    1. Pemahaman Gaya dalam Perspektif Kesejarahan

Dilakukan dengan memberikan gambaran tentang konsep style atau gaya pada masa sebelum masehi, abad pertengahan dan Renaissance sekitar tahun 1500-1700, Neoklasik dan Romantik sekitar tahun 1700-1798, Moderenisme yang berkembang setelah Perang Dunia I dan Postmodernisme. Pemahaman gaya ditinjau dari perspektif kesejarahan dapat memperkaya wawasan tentang keragaman konsepsi, gaya; hubungan gaya dengan berbagai fakta lain yang berkaitan dengan keberadaan gaya; keragaman sudut pandang; keragaman landasan teori; dan penentuan posisi sasaran kajian.

Barthes misalnya, menentukan bahwa style is a historical concepts. Wawasan demikian bagi Umar Yunus berimplikasi pada upaya menggabungkan konsep yang tumbuh pada masa sekarang dengan konsep gaya yang berlaku pada sebelumnya

Contoh konkret dalam Kumpulan Cerpen “Perempuan Semua Orang” karya Teguh Winarsho AS terdapat pada cerpen yang berjudul “Keluarga Ningrat”. Di cerpen itu penulis telah berhasil menggabungkan konsep “lama” yang istana centris dengan konsep sekarang yang lebih “bebas”, tentang pelacuran, dan lain-lain.

    1. Gaya sebagai Sarana Retoris

Terdapatnya bentuk bahasa nan indah dalam kehidupan sastra kita lazim dikenal dengan bahasa klise. Bentuk bahasa demikian lazim kita temukan dalam bentuk-bentuk ungkapan, misalnya bibirnya bagai merah delima. Dalam kerangka pemikiran gaya terdapat pula bentuk-betuk retorikal seperti repetisi, paralelisme, hiperbola, perbandingan, ironi, sarkasme, dan lain-lain.

Contoh konkret dalam Kumpulan Cerpen “Perempuan Semua Orang” karya Teguh Winarsho AS terdapat pada cerpen yang berjudul ”Kabar Kematian”, di cerpen itu terdapat kata “menerobos gerimis yang terus berderai, seperti turut berduka…..” yang tak lain juga adalah bentuk ungkapan.

    1. Gaya sebagai Cara Mengekspresikan Keindahan

Gaya dalam hal ini dihubungkan dengan bentuk dan cara dalam berekspresi sesuai dengan alat yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu secara tepat, mendalam dan menarik. Atau bisa juga dikatakan, keberadaan gaya merambah ke medan lain di luar jalur bidang kebahasaan.

Contoh konkret dalam Kumpulan Cerpen “Perempuan Semua Orang” karya Teguh Winarsho AS terdapat pada cerpen yang berjudul “Telepon”. Di cerpen itu penulis merambah ke medan lain (di luar jalur kebahasaan), yaitu pesawat telepon yag jelas sekali bukan merupakan media tulis layaknya bidang kebahsaan (baca: teks)

    1. Gaya sebagai Bentuk Pengungkapan Emosi Terdalam

Bertolak dari beberapa wawasan, style dapat diartikan sebagai bentuk pengungkapan ekspresi kebahasaan sesuai dengan kedalaman emosi dan sesuatu yang ingin direfleksikan pengarang secara tidak langsung

Contoh konkret dalam Kumpulan Cerpen “Perempuan Semua Orang” karya Teguh Winarsho AS terdapat pada cerpen yang berjudul “Peluru Terakhir”. Di cerpen itu, penulis benar-benar mengungkapkan keliaran emosinya yang terwakili dengan cerita seorang istri yang menembak mati selingkuhannya yang akan menembak mati suami sahnya.

    1. Gaya sebagai Penyimpangan dan Bentuk Ekspresi Individual

Gaya merupakan gejala yang memiliki kualitas estetis yang terkait dengan aspek semantis dan nilai sebagaimana diresepsi penanggapnya dengan bertolak dari ‘bentuk teks’ sebagai aesthetic object. Tanpa memahami gaya sebagai bentuk kreasi yang didudukkan sebagai ‘specific artistic system, nilai keindahan teks sastra yang berkaitan dengan dunia makna tidak akan dapat dipahami.

Contoh konkret dalam Kumpulan Cerpen “Perempuan Semua Orang” karya Teguh Winarsho AS terdapat pada cerpen yang berjudul “Selimut Perempuan Sintal”. Di cerpen itu, penulis menggambarkan bagaimana ia benar-benar berekspresi dan melakukan “penyimpangan” dalam ceritanya. Inti cerita ini adalah seorang suami yang mengijinkan istrinya untuk melacur.

    1. Gaya sebagai Cara dan Bentuk Ekspresi Dunia yang Mungkin

Salah satu dampak dari lahirnya Postmodernism adalah ketidakpercayaan pada teori, penekanan pada nilai kebenaran yang sifatnya tentative sampai pada anggapan ketidakbermaknaan eksistensi dan ketidakmungkinan penemuan makna realitas

Contoh konkret dalam Kumpulan Cerpen “Perempuan Semua Orang” karya Teguh Winarsho AS terdapat pada cerpen yang berjudul “Nay, Nay, Nay…”. Di cerpen ini penulis mengabaikan teori sastra tentang penulisan cerita. Cerpen ini berisi tentang “permainan” short message service (SMS) yang membentuk alur cerita.

    1. Pemilihan dan Penentuan Sudut Pandang

Kode sosial budaya merujuk pada nilai yang terkandung dalam system tanda. Apabila kita memperhatika system tanda dalam teks sastra, tidak dapat diingkari bahwa system tanda itu merupakan hasil kreasi seseorang. Sebagai hasil seseorang system tanda diitensikan untuk mewujudkan ide, gagasan, nilai ideologis, dan kehendak kreatif tertentu.

Contoh konkret dalam Kumpulan Cerpen “Perempuan Semua Orang” karya Teguh Winarsho AS terdapat pada cerpen yang berjudul “Album Keluarga” yang bercerita tentang seorang anak yang begitu menyayangi ayahnya tetapi kemudian kecewa setelah membuka album keluarga dimana dari situ si anak mengetahui jika ayahnya pernah berselingkuh dengan pembantunya.

About these ads

2 Tanggapan to “Pengertian Gaya dalam Perspektif Kesejarahan dan Hubungannya terhadap Karya Sastra Kumpulan Cerpen “Perempuan Semua Orang” Karya Teguh Winarsho AS.”

  1. unki said

    good
    GOOD
    GOOD

  2. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: