Selamat Datang di Blog Didik Harianto

Yang Terserak di Ujung Penaku…

Di Sebuah Sudut

Posted by didikharianto pada Desember 25, 2006

Di Sebuah Sudut

Perkenalkan, aku adalah sebuah ruang kelas, tubuhku berisi empat puluh kursi yang ada alas untuk menulis, atau sekadar menaruh tas, kursinya sendiri berasal dari kayu, entah, aku tak tahu kayu jenis apa itu, yang pasti di tempat yang biasa dijadikan sandaran (senden, jawa) ada anyaman yang sungguh rapi, tapi sayang, di belakang tempat sandaran itu, anyamannya sudah rusak, di dalamnya banyak terdapat bungkusan permen dari berbagai macam merk, dengan semua warna kemasan yang membungkusnya. Tapi anehnya dari sekian banyak kursi, ada sebuah kursi yang tempatnya berada di deretan paling depan menghadap ke kursi-kursi lain, kursi itu jarang ada mahasiswa yang berani memegang, apalagi memindahkannya, aku tidak tahu mengapa demikian, yang pasti kursi itu sering diduduki lelaki-lelaki berperut buncit atau perempuan-perempuan yang sudah tak lagi cantik. Selain ada puluhan kursi, di dalam tubuhku juga ada papan tulis putih dan sebuah whiteboard berwarna hitam yang terletak di pojok kanan bawah papan tulis, oh rupanya tutup whiteboard itu hilang. Tepat satu meter di depan pojok kanan bawah dari papan tulis ada sebuah OHP yang meskipun terletak di dalam, tapi tetap saja tulisan “Gunakan maksimal 2 menit”nya terbaca dari luar. Di tubuhku juga ada tiga buah benda putih bulat dengan diameter lima centimeter yang terletak lebih tinggi dari yang lain, sebuah benda yang baru bisa hidup jika sebuah benda yang berada di dekat pintu ditekan.

Pintu di tubuhku berwarna ungu, sedangkan engselnya berwarna keemasan, tapi kuyakin, itu bukan emas sungguhan, cuma lipstik yang digunakan untuk mempercantik diriku saja menurutku. Jendela, jendela di tubuhku ada delapan buah jendela, aku paling risih jika melihat bagian tubuhku yang satu ini, meskipun masih bisa berfungsi dengan baik, tapi debu-debu yang menempel di delapan jendela itu seringkali membuatku bersin-bersin. Ah, sialan tukang sapu fakultas itu, kerjanya hanya menyapu lantai selasar saja kalau pagi, tapi kenapa jendela-jendela di tubuhku tidak pernah dibersihkan, tidak punya kain pembersih?, bilang dong ke Sub Bagian Rumah Tangga Fakultas, tinggal ngomong saja apa susahnya sih?

Aku paling tidak suka sendiri, sepi, tiada teman, apa yang bisa kukerjakan? Aku paling suka dengan rutinitasku mulai pukul 08.45-15:45 wib, di waktu itu aku paling suka mendengar penjelasan dari lelaki-lelaki buncit atau perempuan-perempuan yang tak lagi cantik itu, aku paling suka ketika melihat mahasiswa di tubuhku yang menelanjangi pendapat dosen, berdiskusi dengan teman-teman sekelasnya, membaca buku-buku yang idealis, dan lainnya. Sebaliknya, aku paling tidak suka jika melihat mahasiswa yang di dalam tubuhku masih asyik ber-smsan, membuat rencana untuk bersama pergi ke salon, distro, bioskop,atau tempat-tempat semacamnya.

Kalau seandainya aku bisa protes ke Sub Bagian Pendidikan, aku akan protes mengapa tubuhku hanya dipakai dari jam 08:45 sampai 15:45, aku paling tidak suka sebenarnya berotasi di jam-jam itu, kenapa aku tidak mulai digunakan mulai jam 07:00 pagi? Padahal, aku paling suka jika tubuhku dipakai jam 07:00. Kenapa, aku suka sekali mencium beraneka macam bau parfum yang dipakai para mahasiswi, pun juga dengan para mahasiswanya, rambut-rambut yang masih mengkilap, dan kemeja yang masih rapi. Berbanding terbalik dengan keadaan ketika jarum-jarum kecil yang kini sudah tak ada lagi di tubuhku menunjukkan pukul 15:45. Jangankan 15:45, 08:45 saja “kecantikan” itu sudah tak berbentuk lagi. Memang, kecantikan yang diperoleh dari cara dan produk instant tak akan bertahan lama.

Pagi ini, tepat pukul 06:02 seorang lelaki paruh baya berkaos oranye bertuliskan “PKPT SASTRA 2002” dan memakai topi sedikit kumal membangunkanku, dia membuka pintuku yang semalam tadi tidur dengan lelapnya. Selamat pagi, ucapku kepada kursi, papan tulis, white board, pintu, lampu, dan juga jendela. Pagi juga, balas mereka hampir berbarengan.    Uh, Brr, kota Malang tetap saja menawarkan aroma dinginnya, kualihkan pandanganku keluar jendela, nampaknya tetesan air kecil-kecil mulai turun, ya, gerimis yang membuat pagi ini semakin dingin.

 

Di depan pintuku, kulihat ada seorang mahasiswa membawa tas ransel biru “Eiger” yang nampaknya cukup banyak isi di dalamnya, dia memakai kaos hitam yang merupakan kaos kebesaran dari salah satu organisasi kemahasiswaan di kampus ini, celana yang dipakainya juga sama warnanya, hitam. Sepatunya belel, bahkan berlubang di sisi kirinya, lubang itu ditutupi dengan menggunakan hansaplast. Aku mengenalnya, dia adalah Didit, salah satu aktivis kampus yang kemana-mana selalu membawa buku Gie, Catatan Seorang Demonstran. Mahasiswa satu ini dikenal dengan idealisme anti MATOSnya. Jika berada di dalam tubuhku, mahasiswa satu ini lebih banyak diam, semua yang dirasakannya biasanya langsung dituliskan dalam sebuah binder hitamnya. Entah apa saja yang dituliskannya, aku tak pernah mengerti.

 Setelah kedatangan Didit, kulihat ada seorang mahasiswi berkacamata, dia sedikit gemuk, pagi ini dia memakai kaos pink “Billabong” dan celana biru “Quicksilver”, di kakinya ada sepasang sepatu “Converse” hitam putih. Nanda, ya Nanda nama mahasiswi yang juga penyiar radio kampus ini langsung saja menyeret Didit masuk ke tubuhku. Ya Tuhan, apa yang akan diperbuat sepasang makhluk adam dan hawa ini, kataku sambil meraba dadaku.

“Aku tahu mungkin ini adalah dunia yang sama sekali berbeda. Tapi manusia hidup dengan perbedaan. Aku tahu kamu menghilang karena jengah, tapi bagiku ini duniaku. Cobalah untuk melihat ini sebagai sebuah keindahan.” Kata mahasiswi itu.

“Aku setuju, perbedaan dan keragaman adalah bahasa keindahan Tuhan, tinggal bagaimana kita menyikapinya saja, aku kemarin pergi karena aku harus menyelesaikan proposalku, kemudian minta tanda tangan ke pembimbing teknis UKMku.” Jawab Didit.

“Oh, jadi kamu gak apa-apa, gak marah ke aku?” Tanya Nanda lagi.

Gak kok, tapi janji gak akan pernah memaksaku lagi pergi ke tempat itu..” Jawab Didit sambil tersenyum kecil menatap kedua mata Nanda.

 

“Ok, Bos..”, balas Nanda sambil mengambil sikap ala penghormatan di upacara-upacara kenegaraan.

 Oh, sebuah perbedaan idealisme yang sungguh manis mengisi tubuhku pagi ini, keduanya saling mengerti, aku bahagia sekali, tubuhku pagi ini digunakan sebagai salah satu fase proses pendewasaan antar kedua manusia berbeda idealisme.

Kulihat, jam di ponsel yang tidak pernah lepas dari genggaman Nanda menunjukkan pukul 06:30, meskipun belum jam 08:45, tapi hari ini aku senang sekali, tubuhku hangat karena sebuah skenario yang indah baru saja dilakonkan kedua mahasiswa itu. Sungguh, pluralitas akan semakin indah jika kita dewasa menyikapinya, bukan sebagai alat pemecah, tapi justru sebagai alat pemersatu, terima kasih Didit, terima kasih Nanda…

 

Malang, lima hari setelah “peristiwa” itu, untuk Nanda Awalil Fitri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: