Selamat Datang di Blog Didik Harianto

Yang Terserak di Ujung Penaku…

Gila, Mereka Memandangku dengan Pandangan Aneh…

Posted by didikharianto pada Desember 25, 2006

Gila, Mereka Memandangku dengan Pandangan Aneh…

                Gila, mereka memandangku dengan pandangan aneh. Aku sendiri sangat-sangat ingin mengerti kenapa setiap orang yang memandangku selalu dengan pandangan anehnya. Seringkali kuperhatikan, jika yang memandangku adalah orang yang berjalan beriringan, entah bersama kekasihnya ataupun bersama teman-temannya. Pasti mereka akan memandangku kemudian saling beradu pandang dengan kekasih atau temannya, dan bisa dipastikan mereka kemudian akan tertawa bersama-sama. Pun jika yang melihatku adalah orang yang berjalan sendirian saja, ia pasti akan memandang ke arahku sebentar, kemudian senyuman tersungging di sudut bibirnya sembari geleng-geleng kepala. Pernah suatu ketika, rasa ingin tahuku mencapai titik kulminasinya. Aku ingat betul, waktu itu matahari masih menggantung lemah di ufuk barat membiaskan warna merah keemasan, ada sepasang muda-mudi yang berjalan di depanku, sedetik, dua detik, tiga detik mereka memandangku dan kemudian pecahlah tawa mereka, mereka tertawa bersama. Bagaimanapun kau harus tahu apa alasan mereka memandangku dan selanjutnya menertawakanku seperti itu, pikirku waktu itu. Dan segera saja kuhampiri sepasang muda-mudi yang berjalan mesra tiga meter di depanku itu. Tapi, tahu apa yang terjadi? Mereka lari cepat-cepat menghindariku sambil tetap bergandengann tangan. Huh, sebenranya apa yang lucu atau konyol dari diriku ini, sehingga semua yang melihatku pasti dengan pandangan aneh dan kemudian tertawa bersama?

            Yang paling memuakkan bagiku adalah, aku sekarang tak ubahnya sebuah monster bagi setiap anak-anak atau balita yang kutemui. Mereka selalu lari terbirit-birit. Jika tidak, perbuatan mereka pasti hampir mirip dengan orang-orang sebelum mereka. Ya, anak-anak itu memandangku dengan pandangan aneh, dan kemudian mereka pasti akan tertawa bersama. Pun sama ketika mereka akan kudekati, sekedar menanyakan kenapa mereka selalu dengan pandangan aneh ketika menatapku dan kemudian tartawa bersama. Tapi seperti bisa ditebak, mereka pasti akan terbirit-birit terlebih dahulu sebelum jarakku dan jarak mereka mencapai lima meter. Aku juga agak muak dengan para ibu-ibu yang memiliki balita atau bayi. Jika tidak mau makan, ibu-ibu itu pasti akan membujuk anaknya dengan kata-kata seperti ini. Ayo maem sing akeh, lek gak engkok ta’ kekno wong cedek’e pos kamling iku loh… **

 

*******

 

            Di sebuah pagi yang masih basah, aku beranjak dari kasur tempatku memintal mimpi. Seperti biasanya, aku langsung menyalakan televisi yang letaknya berseberangan dari kasurku. Entah mengapa, pagi ini aku malas sekali melihat stasiun TV, kutekan tombol TV/AV pada sebuah benda kecil berwarna silver yang kupegang, kemudian kutekan tombol open, sedikit malas aku beranjak ke tas kuliahku, kuambil sebuah Video Compact Disc, semalam aku mendapat pinjaman beberapa VCD dari Ian, temanku sekelasku. Tanpa banyak tanya, aku mengerti jika itu pasti VCD porno, Ian memang tahu kesukaanku, kita sedari SMU dulu memang suka sekali melihat film porno. Segera saja kumasukkan kepingan mengkilap itu ke VCD Playerku dan aku segera mencari posisi ternyaman di kasurku. Kunikmati pergumulan dua manusia berbeda jenis itu. Aku jadi teringat sewaktu aku masih kelas tiga SMP dulu, sewaktu aku baru pertama kalinya melihat film porno di rumah ketua kelasku, gila, jantungku berdetak tak seperti biasanya, waktu itu detakannya seperti kuda yang keluar dari kandangnya, cepat sekali, belum lagi kurasakan tubuhku yang sedikit menggigil, gigiku bergemeretak dan juga dengkulku bergetar. Aku masih menikmati film porno itu ketika berhala kecilku menyanyikan F**kin Girlnya Tani Madjoe, itu berarti ada pesan pendek yang masuk, kutekan beberapa tombol, dari Icha, kekasihku, kutekan tombol read,

            From:  HoneyQ

            Sayang, dah bangun blom?

            Aku bru selesai keramas nich…

Sengaja tidak kubalas sms itu dan kulanjutkan melihat film porno buatan Indonesia itu, empat puluh lima menit kemudian film itu berakhir, aku merasakan ada sesuatu yang lain di ujung kelaminku, segera saja aku pergi ke kamar mandi yang menyatu dengan kamarku, kuputuskan onani saja sambil mencoba kembali mengingat apa yang kulakukan semalam bersama Icha di salah satu sudut kampusku, ketika aku memeluk Icha dari belakang dan aku mulai mencumbunya, aku hanya sekedar meraba beberapa bagian tubuhnya saja sambil sesekali menciumi lehernya. Aku tahu Icha juga suka sekali dengan seks semacam ini, kita berdua memang penggila seks, tapi untuk berbuat lebih jauh, aku dan Icha masih takut akan resiko yang ditimbulkan.

 

*******

 

            Aku hanya bisa berdiri mematung sambil mematung ketika orang tua Icha marah besar kepadaku, kulihat Icha hanya bisa menangis sesenggukan di pelukan ibunya, dan ayah Icha masih saja terus menerus memarahiku sambil sesekali menuding-nudingkan jemarinya ke arah wajahku, dua puluh menit kemudian beliau mengakhiri marahnya sambil memegangi dadanya dan sesekali beliau terlihat kesulitan menghirup nafas.

”Masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan saja ya, om, tante?“ kataku sambil mencoba menenangkan diriku sendiri, setelah agak lama mereka berpikir, akhirnya orang tua Icha menyetujui tawaranku.

            Tepat dua hari setelah aku dimarahi habis-habisan oleh orang tua Icha, aku dan orang tuaku datang ke rumah Icha. Tujuannya jelas, bagaimana agar pernikahanku dan Icha dipercepat, sehingga dapat menutupi aib bagi keluarga Icha, apalagi dengar-dengar tetangga di sebelah kanan-kiri Icha sudah mempunyai dugaan jika Icha telah hamil. Di sebuah ruang keluarga kami duduk bersama, cahaya lampu neon memberi penerangan yang cukup, beberapa kue tersaji dengan enam gelas air putih. Di sebuah meja yang bundar, dimulailah acara “dengar pendapat“ itu, Icha duduk diapit kedua orang tuanya, pun aku juga duduk di antara Ayah dan ibuku. Yang menjadi “Korban“ waktu itu jelas, Icha, pun sama dengan siapa yang menjadi “Tersangka“, aku. “Penuntut“ jelas dari keluarga Icha, pun “Pembela“ juga pasti dari keluargaku.

       “Yang saya tahu, putri saya sekarang hamil akibat perbuatan putra bapak, okelah, mungkin saya juga salah dalam masalah ini, saya kurang perhatian mungkin terhadap putri saya, tapi semua sudah terjadi, pak. Putri saya sekarang hamil, sudah dua bulan. Keinginan saya bersama istri, jelas, menuntut tanggung jawab dari putra bapak, dan hanya ada satu jalan, mereka harus menikah, secepatnya, titik!!!“ Buka ayah Icha sambil bergantian memandang ke arahku dan putrinya.

        Suasana sejenak menjadi hening, hanya detak jam dinding di salah satu sudut ruangan ini dan cericit beburungan yang melintas di atas rumah ini yang terdengar. Kulihat ibuku dan ibunya Icha sama-sama tertunduk, menjelajah detail kain meja yang tergelar di depan mereka, sedangkan Icha menyandarkan kepalanya di lengan ibunya, ayahku terlihat memandang langit-langit dengan dahi yang nampak berkerut, beliau mengambil nafas perlahan, menahannya sebentar, dan kemudian dihembuskannya perlahan, beliaupun angkat bicara.

        “Ya, saya setuju dengan alternatif yang bapak berikan. Saya sendiri juga merasa bersalah dengan adanya kejadian ini, saya merasa saya telah gagal mendidik anak saya. Meskipun saya rasa cukup ajaran agama yang saya tanamkan untuk putra saya. Tapi bagaimanapun semua sudah terjadi. Sudah tak ada gunanya lagi menyesali apa yang telah terjadi. Jalan terbaik adalah benar seperti yang bapak utarakan tadi, kita harus menikahkan mereka berdua secepatnya.“ Balas ayahku dengan memandang lekat kedua mata ayah Icha.

Kedua orang tua kami setuju pernikahan akan digelar akhir bulan depan, mereka selanjutnya membicarakan hal-hal teknis seputar pernikahan kami. Aku hanya sesekali mengiyakan perkataan ataupun usulan mereka.

 

*******

 

        Kira-kira dua bulan lagi putraku akan lahir dari rahim Icha. Istriku tentu saja mengambil cuti kuliah, sedangkan aku yang kini menyandang predikat kepala keluarga harus sebisa mungkin segera mendapatkan kerja part time sehingga tidak mengganggu jadwal kuliahku yang hanya tinggal satu semester saja sebelum mendapat gelar sarjana. Nanti hasil kerjaku akan kugunakan untuk membiayai persalinan istriku. Sekarang aku dan istriku masih numpang di rumah orang tuaku di pinggiran kota Malang yang sejuk. Meskipun begitu, aku yakin sekali jika secepatnya aku mampu menyelesaikan skripsi, dan mendapat pekerjaan yang selama ini kuidam-idamkan, wartawan.

    Seperti malam-malam lalu, aku sekarang tidak pernah tidur sendirian, di sampingku selalu ada istriku. Pun sama dengan malam ini, jam weker berbentuk bola di sebelah tempat tidurku menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit, aku dan istriku sudah bersiap tidur, selimut telah sampai di leher kami. Istriku mulai menanyakan nama yang kira-kira pantas untuk anak kita nantinya dan istriku juga mengutarakan keinginannya kelak anak pertama kita adalah perempuan.  Istriku mendongakkan kepalanya, menatap wajahku yang sedari tadi asyik menjelajahi lembaran-lembaran rambutnya, dua detik kemudian ia berkata,                                                    

        “Mas janji tidak akan marah jika aku ingin berterus terang kepada mas?“

Aku membenarkan posisiku, sekarang aku sedikit bersandar di sandaran tempat tidur.

    “Mas..??“ Ulang istriku, aku tidak menjawab, hanya mengangukkan kepalaku sedikit.

“Sebenarnya, bayi ini bukan dari benih yang mas tanam, ya, aku memang pernah berhubungan badan dengan mas, tapi aku ingat sekali waktu itu kita memakai kondom dan aku yakin sekali kondom itu tidak bocor. Sebenarnya sewaktu aku masih pacaran dengan mas dulu, aku sempat beberapa kali berhubungan badan dengan mantan kekasihku sebelum mas, dan itu kulakukan tentunya di luar sepengetahuan mas…“ Ucap istriku yang diiringi buliran-buliran air bening di sudut matanya yang akan menganak sungai di kedua pipinya jika matanya mengerjap.

“Dengan Komar…??“ Tanyaku gamang,

“Ya…“ jawab istriku singkat

“Benarkah..??“ Tanyaku meyakinkan, istriku hanya mengangguk kecil dan kulihat air bening itu telah jatuh, menguasai pipi yang dulu benar-benar kupuja.

      Kuputuskan untuk meninggalkan rumah ketika semua penghuninya masih terlelap dalam tidurnya, aku hanya membawa beberapa potong pakaian yang kumasukkan dalam tas plastik besar. Aku tidak tahu arah mana yang kutuju. Aku menuruti kemana kaki ini membawa tubuh dan jiwa yang kurasakan tak lagi berbentuk. Sebenarnya, aku masih sayang istriku, calon bayiku, keluargaku dan semuanya. Tapi, sepertinya aku masih tidak bisa menerima kenyataan jika bayi yang dikandung istriku ternyata bukan anakku dan sepertinya aku juga masih belum menerima kenyataan jika istriku dahulu sering berhubungan badan dengan Komar, mantan kekasihnya. Mungkin juga ini azab dari yang Maha Segalanya atas semua kebusukan yang pernah kulakukan sebelum aku dinikahkan dengan istriku. Ah, aku tidak tahu…..

 

*******

 

       Dan sekarang, aku terduduk di dekat pos kamling sebuah desa yang tak kuketahui namanya, menatap anak-anak kecil yang memandang aneh kepadaku. Adakah salah satu dari mereka anakku?

 

 

 

 

 

 

Catatan:

** Ayo makan yang banyak, kalau tidak nanti ibu berikan kepada orang yang berada di dekat pos kamling itu loh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: