Selamat Datang di Blog Didik Harianto

Yang Terserak di Ujung Penaku…

Lelaki Penyuka Musik dan Cerpen yang Belum Selesai

Posted by didikharianto pada Desember 25, 2006

Lelaki Penyuka Musik dan Cerpen yang Belum Selesai

              Seperti kemarin-kemarin, lelaki itu sekarang kebingungan. Ia mengendarai motor dengan tidak biasanya, kencang sekali. Tujuannya sekarang adalah wartel terdekat. Segera ia menghubungi perempuan yang akhir-akhir ini mengusik harinya. Tapi, hari ini sepertinya mereka bertengkar. Pagi tadi, aku dapat melihat dan mendengar dengan jelas apa yang mereka lakukan. Perempuan itu tetap memaksakan datang meskipun dengan raut muka yang enggan sepertinya, dengan sisa-sisa tenaga dan kemauan, ia mencoba menemui lelaki yang kerap berpakaian hitam itu. Di percakapan mereka, perempuan yang sama berbaju hitam itu lebih sering menundukkan wajahnya ketika berbicara dengan lelaki itu. Hanya satu ucapannya yang bisa kutangkap, perempuan itu hanya mengucapkan terima kasih, dan selanjutnya perempuan itu berlalu pergi meninggalkan lelaki yang nampaknya belum selesai bicaranya itu. Pun sama dengan ketika maghrib tadi baru saja berlalu. Ketika aku sedang menelepon ke rumah, sekedar memberikan kabar jika aku di sini baik-baik saja, meminta doa dari semua yang ada di rumah karena aku sedang menempuh Ujian Akhir Semester, dan meminta kiriman uang tentunya. Tak kuduga lelaki itu juga datang ke wartel depan kosku tempatku menelepon. Wartel itu memang hanya memiliki 2 KBU. Yang satu kutempati, dan yang satu ditempati lelaki yang sampai saat ini masih menggunakan pakaian hitamnya. Aku bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan lelaki itu, ia sedang membujuk suara di seberang sana untuk bersedia menemaninya melihat konser musik yang sekarang sedang dihelat di kampusnya. Sekitar lima menit ia berusaha membujuk, tapi, akhirnya ia keluar dari KBU dengan wajah penuh kekalahan. Dengan sisa-sisa kesabarannya, lelaki itu menaiki motornya. Entah mengapa, aku ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukannya. Segera saja kututup pembicaraanku dengan ayah bundaku di kampung. Kunaiki juga motorku, aku sekarang membuntutinya. Ia membelokkan motornya ke arah kampus. Ia akan melihat konser musik? Tanyaku kepada diriku sendiri. Tak lama pertanyaanku terjawab, lelaki itu melewati begitu saja venue konser musik itu. Ia sekarang menuju ke ruangan sekretariat sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa, ia memasukinya, aku memperhatikannya dari depan ruangan sekretariat itu, sepi, tapi tak lama kemudian terdengar musik dari dalam ruangan itu, sebuah lagu yang mengabarkan kesendirian.

            Masih asyik menerka apa yang dilakukan lelaki itu, sebuah getaran kecil di saku kanan celanaku sedikit mengagetkanku, sebuah pesan pendek dari perempuanku,

            From : HoneyQ

            Sayang, jadi liat Colourfull Day g?

            Qtunggu skr d kosku y?

            I Love You Fuel…

Astaga, aku ada janji dengan perempuanku. Segera saja kutinggalkan kampus dengan berbagai hipotesis tentang apa yang dilakukan lelaki berpakaian hitam itu. Sesampai di kos perempuanku, perempuanku dengan wajah murungnya segera menghujaniku dengan berbagai macam pertanyaan. Kuucapkan sepatah kata saja untuknya, maaf, sambil membelai rambutnya, dan ia pun tersenyum lagi. Huh, perempuan… kataku dalam hati.

“Sayang, anterin aku ke sekretariat Balai Penulis Muda ya? Aku mau ngasih tugas untuk TriKoen nih, mau kan?” Bujuk perempuanku sambil mempererat pelukannya di perutku.

Hah, tempat lelaki itu tadi? Ucapku pelan, nyaris tak terdengar.

“Sayang…” ulang perempuanku.

“Oh… ya, ya… Apa sih yang gak buat kamu?” Jawabku, klise.

Perempuanku semakin mempererat pelukannya, dan aku suka itu. Sengaja aku lajukan pelan saja motorku, aku memang ingin melewatkan malam ini dengan perempuanku saja. Dan akhirnya aku sampai juga di depan sekretariat Balai Penulis Muda itu. Kutemani perempuanku masuk, aku dan perempuanku mengucapkan salam, hampir berbarengan. Terdengar suara sedikit berat dari dalam, menjawab salam. Dan, lelaki itu muncul!!! Lelaki itu mempersilahkan kami masuk. Segera saja perempuanku mengutarakan maksudnya datang ke tempat ini. Lelaki itu cukup ramah sepertinya, ia mengatakan jika TriKoen – seseorang yang dicari perempuanku- sedang ada rapat rahasia di suatu tempat yang tidak memperbolehkan ada seorangpun yang tidak berkepentingan hadir ada di rapat itu. Dan perempuanku memutuskan untuk meninggalkan pesan saja, ia berbicara kepada lelaki itu, tapi lelaki itu mengatakan tidak bisa mengingat-ingat pesan dari perempuanku. Lalu ia mengambil pena dan kertas yang sepertinya memang banyak di tempat ini dan memberikannya kepada perempuanku. Ketika perempuanku masih asyik menuliskan pesannya, iseng kuhampiri komputer yang masih menyuarakan lagu tentang kesendirian. Bisa kubaca jelas tulisan yang tercetak di layar berukuran 15’ itu. Sebuah Cerpen, Sebuah Hari yang Penuh Keengganan. Oleh Ian Hitam Mu-Phet. Tanpa ada yang menyuruh, kuraih mouse berwarna merah, kugerakkan ke bawah, masih dapat satu halaman, kataku pelan.

            Lagi nulis cerpen ya mas?” Tanyaku sekenanya.

            “Seperti yang anda lihat” Jawabnya singkat.

Perempuanku telah selesai menuliskan pesannya. Segera saja kami mengucapkan terima kasih dan beranjak pergi meninggalkan lelaki itu, ruangan itu dan lagu yang mengabarkan kesendirian itu.

            Aku dan perempuanku kini sudah ada di venue konser musik. Perempuanku berdiri tepat di depanku, tanganku dilingkarkannya di perutnya. Aku lelaki normal, dan hasrat kelelakianku menggelegak. Tapi, entah mengapa, aku “dingin” sekali kali ini dengan perempuanku. Saat ini aku ingin sekali mencari tahu meskipun hanya lewat imajinasiku saja kenapa lelaki itu pagi tadi sedikit bertengkar dengan perempuan berjilbab putih itu, kenapa lelaki itu keluar dari KBU wartel dengan wajah penuh kekalahan, kenapa lelaki itu hanya memutar satu lagi saja di winamp tentang kesendirian yang menemaninya menulis, kenapa lelaki itu menulis cerpen yang berjudul “Sebuah Hari yang Penuh Keengganan”, dan terakhir, kenapa lelaki itu tidak melihat konser musik yang hanya berjarak sekitar delapan puluh meter saja dari tempatnya malam ini beraktifitas.

            Mungkin saja, perempuan berjilbab putih tadi pagi adalah kekasih dari lelaki itu dan kemarin malam mereka bertengkar, lelaki itu ingin menyelesaikan masalahnya dengan perempuannya, tadi pagi di kampus. Tapi, perempuannya masih ingin menjauh sementara darinya. Kemudian selepas maghrib tadi lelaki itu ingin mengajak perempuannya melihat konser musik di kampus, sekedar untuk “mendinginkan” pertengkaran. Tapi, perempuannya sepertinya tidak mau. Dan lelaki itu keluar dari KBU wartel dengan wajah penuh kekalahan. Lalu lelaki itu pergi ke sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa yang diikutinya. Mendengarkan Winamp, lagu yang didengarkannya adalah lagu tentang kesendirian, karena ia memang bersendiri tadi. Kemudian tentang cerpennya yang berjudul “Sebuah Hari yang Penuh Keengganan” Menurutku, lelaki itu terinspirasi dengan perempuannya yang pagi tadi memang nampak enggan menemuinya, pun juga perempuannya yang enggan menemaninya melihat konser musik. Dan pertanyaan terakhirku tentang kenapa ia tidak melihat konser musik, mungkin saja ia memang tidak mau melihat jika tidak ditemani perempuannya. Apakah ia takut hatinya tergoyahkan dengan hadirnya perempuan lain yang akan ia temui nanti di venue konser musik? Apakah ia memang tidak suka keramaian? Ataukah ia memang mengerti “hukum” musik yang memang tidak untuk dilihat tapi cukup didenagrkan saja? Ah, aku tidak tahu pasti. Tapi yang pasti, lelaki itu juga suka mendengarkan musik. Itu terbukti dengan ia yang memainkan lagu yang mengabarkan tentang kesendirian di Winampnya.

            Semakin lama, aku semakin menikmati kembara imajinasiku yang mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang lelaki itu. Dan aku juga semakin tidak memperhatikan perempuanku yang setiap lima menit sekali pasti akan semakin merapatkan pelukanku di perutnya. Kini, aku mencoba menebak tentang cerpen yang tadi ditulis lelaki itu. Ini dari subjektifitasku saja yang notabene adalah mahasiswa Psikologi yang memang benar-benar tidak mendalami tentang karya sastra. Tapi menurutku, pemilihan judul lelaki itu tadi sudah cukup bagus, mampu menarik perhatian pembaca hanya dengan membaca judulnya. Tapi kira-kira tema apa yang diangkatnya, dan dari mana inspirasi untuk menulis cerpen itu. Bagaimana alur cerpen itu. Terakhir, apakah cerpen itu telah selesai sekarang?

            Aku dikagetkan dengan ciuman perempuanku yang mendarat mulus, tepat di pipi kananku. Perempuanku menyangkaku sedang melamun yang tidak-tidak. Aku tidak menyadari jika konser musik di lapangan depan kampusku itu sudah berakhir. Kini perempuanku yang tingginya hanya sebatas daguku itu mamandang ke arah wajahku dengan pandangan mengiba,

            “Sayang, anterin aku ke Balai Penulis Muda tadi ya? Mungkin saja TriKoen sudah kembali, dan aku akan njelasin sedetail-detailnya tentang tugas yang harus dikumpulkan besok tadi, mau ya?” Rengek perempuanku.

            “Ya sayang, Apa sih yang gak buat kamu?” Jawabku seperti tadi, klise.

Segera kuambil motor yang kuparkir di tempat parkir yang bersebelahan dengan pos satpam. Dan seperti tadi, perempuanku memelukku erat, sesaat setelah menaiki motorku. Dan sekali lagi, aku suka itu. Kulajukan perlahan motorku ke depan sekretariat Balai Penulis Muda yang bersebelahan dengan sekretariat Korps Suka Rela  Palang Merah Indonesia dan sekretariat Ikatan Pecinta Retorika Indonesia. Sesampainya di sana, segera aku dan perempuanku masuk, kali ini tanpa mengucapkan salam.

Dan kudapati lelaki itu masih saja sendiri, tenggelam di hadapan komputer yang masih mendendengkan lagu yang mengabarkan kesendirian, memandangi sebuah potret di layar komputer, seutas wajah yang penuh keceriaan, wajah itu memakai kerudung berwarna putih, tapi kemudian lelaki itu meng-close file ACDSee itu. Dan kemudian kulihat lelaki itu masih termangu di hadapan komputer, memandang lemah aksara-aksara cerpennya yang sedari tadi belum juga ia selesaikan…

 

Malang, 8 Juni 2006 OPUS 275 Anniversary…

untuk seseorang yang kian akrab dengan sepi

2 Tanggapan to “Lelaki Penyuka Musik dan Cerpen yang Belum Selesai”

  1. someone said

    bgs bgt

  2. sipta said

    ngomongin diri seniri, atau…??
    masih aktif disana ya dik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: