Selamat Datang di Blog Didik Harianto

Yang Terserak di Ujung Penaku…

Perempuan yang Sedari Tadi Kuamati

Posted by didikharianto pada Desember 25, 2006

Perempuan yang Sedari Tadi Kuamati

           Tidak ada yang dilakukannya sekarang, hanya menunduk, sambil sesekali menutup wajahnya. Sebenarnya, aku amat sangat ingin mengetahui apa yang sedang dilakukannya. Wanita berjilbab putih itu tetap saja tidak mau mendongakkan kepalanya, hanya sepasang kakinya yang mungil saja yang nampak digerak-gerakkan, gerakannya begitu lembut, tak jarang gerakan itu membentuk sudut 180 derajat. Wanita berjilbab putih itu masih terduduk di sebuah bangku putih panjang, ia tetap tak bergeming, diam. Kedua tangannya masih memegangi tepian bangku yag terbuat dari kayu itu. Sesekali terdengar helaan nafasnya membesar, kemudian nafas itu dilepaskannya perlahan, sepertinya ia menanggung beban yang sangat berat.

            Jika aku boleh memperkirakan statusnya, ia pasti seorang mahasiswi, usianya, ia pasti berusia sekitar duapuluh tahunan, wajahnya putih bersih, cocok sekali dengan jilbab yang ia kenakan, ia memakai kaos hitam sedikit ketat sehingga beberapa bagian tubuhnya terlihat menonjol, ia juga memakai jaket, jaketnya berwarna merah hati dengan garis-garis putih di bagian lengannya. Untuk celana, ia memakai celana hitam yang sama dengan kaos yang dikenakannya, agak ketat. Sepatu Sneaker putih menghiasi kakinya.

            Ia masih tetap saja menundukkan kepalanya, kali ini ia memindahkan tas yang sedari tadi dicangklongkan di pungggungnya ke pangkuannya. Sejurus kemudian ia memandang kearah pintu, ah… tetap saja aku tidak bisa memaknai pandangannya itu, pandangan kedua mata itu nanar, kosong. Kali ini tangan kanannya dikepalkan, kemudian ditaruhnya pelan di bawah dagunya. Matanya tetap saja tidak pernah terlepas dari kedua pintu yang terbuat dari besi itu. Ia memejamkan mata, sedetik, dua detik, tiga detik, makin rapat saja pejaman mata itu. Kerut-kerut di pangkal matanya yang semakin menajam menandakan itu. Akhirnya mata itu membuka, perlahan, mata itu nampak bening, ada sekumpulan air di kelopak matanya yang siap menganak sungai di pipinya jika ia kembali memejamkan mata. Mata itu memejam lagi, dan tak ayal air-air bening itu pun akhirnya turun. Sebenarnya apa yang dirasakan wanita itu sehingga ia menangis?

            Aku masih tidak beranjak dari kursi kayu tempatku duduk di ruang tunggu yang semakin sepi ini, kulihat jam yang melingkar di tangan kiriku menunjukkan pukul tiga sore. Kukirim sebuah pesan pendek kepada perempuanku, Gigih. Kubilang aku sekarang tidak bisa menemuinya di rumahnya, karena aku masih harus mencari berita. Memang, kesibukanku sebagai wartawan magang di sebuah surat kabar lokal di kota ini mau tidak mau menyita sebagian waktuku. Tapi tak apalah, demi cita-citaku sebagai wartawan profesional, ya, wartawan profesional, semua ini harus kujalani, tak peduli apapun konsekuensinya.

         Aku masih terus mengedarkan pandangan ke arah wanita itu. Jika ia balik memandangku, aku pura-pura mengalihkan pandangan, memandang ke arah taman, berpura-pura membaca atau apapunlah supaya wanita itu tidak tahu jika aku sedang memperhatikannya. Wanita itu masih menunduk ketika berhala kecil yang disimpan di saku celana bagian kanannya berbunyi, mendendangkan lagu Tuhan milik Tani Madjoe, sebuah band lokal dari kota ini. Dengan gerakan yang lemah ia berusaha mengambil berhala kecilnya, setelah berhasil, aku bisa melihat jika berhala kecilnya memang tampak berkedip, menandakan ada sebuah panggilan dari seberang sana. Lama ditatapnya layar berhala kecilnya, sedetik, dua detik ia masih belum menekan satu tombol pun di keypad ponselnya, dan kedipan itu pun sekarang berhenti. Tak ada satu cahaya pun sekarang di layar berhala kecilnya. Ia masih memegangi berhala kecilnya ketika kedipan di layar itu kembali muncul. Kini dengan sedikit cepat ia mendekatkan berhala kecil itu ke arah telinganya yang tertutup jilbab putih itu sambil beranjak dari bangku tempatnya duduk, ia kini berdiri membelakangiku. Tapi meskipun begitu, aku masih bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan wanita itu,

            “Assalamualaikum…”

            “Ya tante, saya sudah berada di sini…”

            “Sendirian saja…”

            “Saya baik-baik saja, cuma, saya minta doanya saja supaya tidak terjadi apa-apa dengan Indra. Saya khawatir sekali dengan keadaannya…”

            “Apa? Tante mau kesini sekarang? Ya sudah, tidak apa-apa tante, tapi hati-hati ya di jalan tante sama om. Sore sudah semakin menua…”

            “Ya, saya tidak apa-apa kok, tante tenang saja… tapi, ya itu tadi, sekali lagi saya minta doanya saja supaya tidak terjadi apa-apa dengan Indra. Saya khawatir sekali dengan keadaannya…”

            “Ya tante…”

            “Sore, Wa’alaikumsalam warahmah…”

setelah mendapat telepon itu, wanita itu kembali duduk, ia kembali menundukkan kepalanya, telapak tangannya sekarang digunakan untuk menutupi wajahnya. Nampaknya ia mencoba tegar dengan apa yang dialaminya sekarang, tapi wanita itu sekali lagi tidak bisa menahan jatuhnya air bening dari sudut mata ke pipinya. Pipinya nampak mengkilap, dibasahi air bening yang baru saja terlahir. Perlahan, ia membuka resleting tasnya dan merogohkan tangannya ke dalam, ia mengambil sebuah bungkusan yang tak kuketahui jelas apa isinya. Oh, ia mengambil sebuah tissue, tissue itu kemudian digunakannya untuk menyeka pipi dan matanya yang basah itu. Setelah selesai, ia memasukkan lagi bungkusan tissue yang tersisa ke dalam tasnya, sedangkan tissue yang tadi digunakannya tetap disemayamkan di tangan kanannya, sesekali ia menggunakan tissue itu untuk menyeka kedua matanya. Setelah kurang lebih lima kali sekaan, wanita itu berdiri, ia menghampiri tong sampah yang kira-kira terletak empat meter dari tempatnya duduk.

            Kurang lebih setengah jam setelah mendapat telepon itu, ruang yang sudah semakin akrab dengan sepi ini kedatangan tiga orang, satu, seorang lelaki paruh baya, kedua, perempuan yang juga sudah berumur, dan yang terakhir adalah seorang perempuan muda yang kutaksir umurnya adalah sebaya dengan pelajar kelas dua SMU. Lelaki paruh baya itu memakai busana batik, khas orang jawa. Perempuan yang sepertinya istri dari lelaki itu pun sama, memakai busana khas jawa, kebaya. Sedangkan, perempuan yang paling muda itu memakai pakaian yang agak membuatku ngiler, ia memakai celana jeans biru ketat yang dilipat bagian bawahnya, khas anak muda zaman sekarang, dan memakai kaos hitam yang sama ketatnya. Kedatangan tiga orang itu serta merta membuat perempuan yang kuperhatikan sedari tadi itu beranjak dari tempat duduknya, ia sekarang berdiri dan selanjutnya bersalaman sambil mencium tangan kedua paruh baya itu, sedangkan kepada perempuan muda itu ia lebih memilih cipika cipiki. Setelah kedatangan tiga orang itu, perempuan yang sedari tadi kuamati itu mengambil posisi paling kanan dari rombongan keluarga itu. Tepat di sebelahnya, perempuan paruh baya itu duduk, di sebelahnya ada perempuan yang paling muda diantara  mereka yang sedari datang tadi sibuk dengan berhala kecilnya. Sedangkan lelaki paruh baya tadi, duduk paling tepi diantara mereka. Aku bisa mendengar sesenggukan yang terlahir dari perempuan yang sedari tadi kuamati itu, ia sekarang memeluk perempuan paruh baya yang nampak anggun itu sambil menenggelamkan wajahnya. Perempuan paruh baya itu nampak bijaksana, sabar dan tegar, itu bisa terwakili dari apa yang diucapkannya. Dengan wajah dan gerak tubuh penuh keibuan, dengan mesra perempuan paruh baya itu memeluk mesra perempuan yang sedari tadi kuamati itu, ia berulang kali mengusap rambut perempuan yang sedari tadi kuamati itu sambil sesekali mencium kepala perempuan muda itu. Sambil sedikit berbisik, perempuan paruh baya berulang kali mengucapkan kat-kata penyemangat untuk perempuan muda itu. Sekitar setengah jam kedua hawa itu saling mencoba berpengertian satu sama lain. Kini, lelaki paruh baya yang mencoba sedikit menghibur perempuan yang sedari tadi kuamati itu. Tapi, seperti kebanyakan kaum adam yang tak pandai bersilat lidah, lima menit saja lelaki paruh baya itu meninggalkan perempuan yang sedari tadi kuamati itu untuk kembali menemui bangku yang sedari tadi didudukinya. Aku masih terus mengamati perempuan muda itu. Setelah kedatangan keluarga itu nampaknya ia menjadi agak sedikit tenang. Ia membetulkan posisi duduknya. Sekarang ia duduk dengan posisi agak tegak, sambil sesekali menyeka pipi ataupun wajahnya yang nampaknya basah lagi dengan air-air bening yang terlahir dari kedua sudut matanya. Ia mencoba tegar sepertinya. Kemudian, kulihat perempuan paruh baya itu juga membetulkan posisi duduknya, ia menghadap ke arah perempuan yang sedari tadi kuamati itu. Kali ini nampaknya perempuan paruh baya itu bersiap akan berbicara lagi kepada perempuan yang sedari tadi kuamati itu. Tapi, sekarang kata-kata yang keluar dari bibir perempuan paruh baya itu terdengar agak keras. Dan, aku berhasil mendengarnya dengan jelas. Sayang, yang bisa kudengar sedikit saja karena memang perempuan itu berbicaranya juga tidak sebanyak ketika ia berbicara untuk kali pertama dengan perempuan yang sedari tadi kuamati itu. Aku bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakanya.

 “Ya adik, mari kita bersama-sama berdoa untuk kesembuhan adam yang sama kita sayangi, karena memang hanya itulah yang bisa kita lakukan sekarang. Tante sudah siap, menerima hal terburuk sekalipun kalau itu memang takdir yang sudah digariskan Yang Maha sejak zaman azali dulu…”.

       Aku mulai jengah dengan pekerjaan yang memag kebanyakan orang tak menyukainya ini, menunggu. Aku juga sudah mulai bosan memperhatikan perempuan muda itu. Ditambah lagi dengan perutku yang menyayikan lagu-lagu perjuangannya, kuputuskan untuk melangkahkan kaki menuju ke arah kantin rumah sakit ini. Hingga deritan pintu yang terbuka menarik perhatianku. Ada tiga orang lelaki yang sama botaknya memakai pakaian putih sebatas lutut, yang satu berkacamata, sedangkan yang lain tidak. Dan juga ada dua orang suster yang sama cantiknya. Yang berkacamata sibuk memasukkan alat-alat operasi ke keranjang dorong. Sedangkan yang satunya lagi asyik memegangi beberapa kertas sambil sesekali menuliskan sesuatu. Kemudian, setelah menyeka peluh yang membasahi keningnya, dokter botak yang berkacamata itupun segera berbicara.

“Bapak, Ibu, kami telah berusaha sekuat tenaga, tapi, Tuhan berkata lain. Operasi yang kami lakukan gagal. Dan…”.

Setelah dokter berbicara seperti itu, ada dua orang pegawai Rumah Sakit yang mendorong kereta dorong yang di atasnya ada sesosok tubuh yang ditutupi kain hijau. Segera saja perempuan yang sedari tadi kuamati itu menghambur ke arah kereta dorong itu, menghentikannya, dan membuka sebagian kain hijau itu. Perempuan yang sedari tadi kuamati itu kemudian memandangi wajah keputihan yang nampak tersenyum itu sambil berusaha tegar. Sungguh, sebuah senyuman yang damai mengiringi kepergian sesosok tubuh itu meninggalkan dunia yang semakin sempit dengan kemunafikan ini…

 

Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang, 17 Maret 2006, 15:50 wib,

Untuk Ika Dian Rahmawaty, Semoga tabah menerima takdir Yang Maha Segalanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: