Selamat Datang di Blog Didik Harianto

Yang Terserak di Ujung Penaku…

Psikolog yang Menerima Tamu Aneh

Posted by didikharianto pada Desember 25, 2006

Psikolog yang Menerima Tamu Aneh

Sampai istirahat siang telah usai, orang yang berkonsultasi ke tempat praktikku baru satu orang, yaitu seorang mahasiswi Sastra Jerman semester dua, yah, biasalah masalah remaja yang tidak akan pernah bisa jauh dari urusan cinta. Siang ini sengaja aku tidak menjemput putri kesayangan semata wayangku, baru saja aku mengirimkan sebuah pesan pendek untuknya, kubilang aku tidak bisa menjemputnya karena aku letih sekali, punggungku serasa lepas dari gugusan tubuhku, pun juga kakiku, kepalaku pening. Kurebahkan perlahan tubuhku di atas kursi praktikku, sambil sesekali mengingat curhat mahasiswi yang mengaku bernama Gigih, sama persis dengan nama putriku, ia mengaku kuliah di salah satu universitas negeri terkemuka di kota ini, ia bercerita tentang pacarnya yang terlalu sibuk berorganisasi atau bisa dikatakan aktifis kampus, waktunya lebih sering digunakan untuk mengurusi Lembaga Pers Mahasiswa yang diikutinya, kata Gigih, pacarnya itu adalah anggota LPM dan memegang jabatan sebagai Pimpinan Redaksi, sehingga, Ian -pacar Gigih- mempunyai waktu yang sedikit untuknya, pun ketika sedang berdua saja, Ian jarang sekali mengajaknya ngobrol, ia lebih suka menulis, entah menulis puisi, prosa atau apapunlah namanya yang berhubungan dengan dunia tulis menulis, sepertinya, Gigih tidak sebegitu berharga di hadapan Ian. Setelah Gigih selesai mengutarakan semua permasalahannya, aku baru memberinya saran, aku mengatakan bahwa dalam setiap hubungan itu harus berlandaskan pengertian dan dukungan. Jika pacarnya adalah salah satu anggota LPM, maka sebaiknya Gigih harus mendukungnya, toh, bergabung dengan LPM adalah sebuah tindakan positif, apalagi dengan hoby pacarnya yang gemar menulis, itu juga merupakan hoby yang positif, sudah seharusnyalah Gigih mendukungnya, memberinya surprise mungkin akan agak sedikit bisa melumerkan hubungan mereka yang terkesan kaku, tanpa sepengetahuan Ian, selipkan buku terbaru dari penulis muda Indonesia Dewi Lestari yang berjudul Filosofi Kopi di tas kuliahnya sembari selipkan satu kertas kecil saja bertuliskan “Aku Sayang Kamu”, maka, pasti Ian akan semakin sayang ke Gigih. Setelah itu, sepertinya Gigih kembali menemukan “hidup”nya dan ia berjanji akan melakukan semua saranku.

            Setelah kepergian Gigih yang diiringi sebuah senyuman yang menyungging di pojok bibirnya, aku kembali stand by dengan posisi santai, tak ada yang bisa kulakukan sekarang kecuali “menikmati” letihku, kuraih sebuah koran yang sepagi tadi diantar tepat waktu oleh loper koran berbaju rompi biru dan bersepeda kayuh, kubaca halaman pertama, aku cukup kaget ketika membaca dan mengamati kronologis kejadian kaburnya narapidana mati kasus pembunuhan berencana yang nampaknya dilakukan dengan amat sangat mudahnya, bagaimana tidak, untuk bisa keluar dari terali besi yang mengurungnya, sedikitnya tahanan itu harus melewati tiga lapis penjagaan sipir penjara, setelah itu baru melewati pos keamanan utama atau kalau tidak, ia harus memanjat tembok penjara yang tingginya mencapai tujuh meter dan merusak kawat berduri yang terpasang melingkar di penjara itu, setelah itu ia harus meloncat tembok penjara, sungguh, bukan merupakan hal yang mudah dilakukan oleh tahanan yang sudah berusia kepala empat itu, suudzonku bermain, aku yakin sekali jika kaburnya tahanan itu pasti melibatkan oknum penjara, bukankah tahanan itu adalah orang berduit dan berpengaruh di negeri ini, dengan uang, ia akan mendapatkan segala apa yang diinginkannya, jangankan kabur dari penjara, membeli pulau pun kuyakin ia mampu. Mungkin ini adalah hobynya yang sekian lama dilakoninya, bagaimana tidak, ia seringkali kabur dari tahanan, tercatat ia sudah kabur sebanyak tiga kali. Ah, sudahlah, apa gunanya aku mengurusi orang lain, wong mikirkan diriku sendiri saja masih gak nggenah. Aku bosan, kuputuskan untuk menutup saja tempat praktikku, kubalik plakat di balik kaca depan tempat praktikku, semula “BUKA/OPEN”, kubalik menjadi “TUTUP/CLOSE”. Sejenak setelah kupandangi plakat tempat praktikku seraya tersenyum akupun masuk ke mobilku, kubiarkan saja roda mobilku berputar cepat menggilas aspal jalanan kota. Tak biasanya kupacu mobilku secepat ini. Ahh..biar saja. Aku hanya ingin merasakan angin menghempas seluruh penatku. Membawanya jauh hingga raga ini tak mungkin merasakannya lagi. Biarkan angin dengan egonya, menerpa apa saja yang ia ingin terpa.

Kembali kucumbui tempat kerja yang telah sekian tahun menjadi penghasilan utamaku, sebenarnya aku bisa saja tak usah kerja keras, toh suamiku juga bekerja, malah gajinya lebih besar dariku, maklum saja, ia seorang pengembang Real Estate, kenapa aku suka sekali dengan pekerjaan ini? Aku paling tidak suka diam, aku bosan di rumah jika waktuku hanya kuhabiskan dengan bangun jam delapan pagi, kemudian memesan fast food, ke fitness centre, shopping ataupun arisan mungkin? Setelah itu menghabiskan waktu di salon hanya untuk medicure, pedicure atau “hanya” merawat kuku saja kemudian tidur lagi, aku paling tidak suka seperti itu. Selain itu, ijazah dan gelar Sarjana Psikologiku akan sia-sia saja jika aku tidak membuka tempat praktik ini, pagi ini tepat jam sembilan ketika aku mulai duduk di kursi hitamku yang sedari kubuka tempat praktik ini belum pernah kuganti, pelan kusandarkan tubuhku, mataku menerawang, mengingat banyaknya warna-warna yang telah menghiasi hidupku selepas aku menamatkan Strata satu dan duaku di salah satu kampus di kota ini, aku sempat bekerja sebagai pengasuh rubrik “Psikologi” di salah satu koran pagi di kota ini, selama satu setengah tahun bekerja di situ, aku mulai jengah, kuputuskan untuk mengajukan lamaran pekerjaan di salah satu perusahaan rokok berskala nasional di kota ini, aku melamar untuk posisi “HRD Manager” karena masih ada hubungannya dengan disiplin ilmu yang pernah kupelajari, alhamdulillah, setelah satu tahun akupun berhasil menduduki jabatan sebagai “Kabag Personalia”, di perusahaan rokok itulah aku bertemu dengan seorang lelaki, ia biasa kupanggil Mas Pram, lelaki itulah yang kini jadi suamiku, waktu itu suamiku masih menduduki jabatan sebagai Manajer Keuangan, setelah delapan bulan menjalin hubungan, orang tua kami setuju, kamipun menikah. Kebahagiaan kami semakin lengkap setelah setahun aku berumah tangga dengan suamiku, aku dikarunia putri yang selanjutnya kuberi nama Gigih Gita Pramukti, ia sekarang duduk di kelas tiga SMU, putriku tumbuh sebagai remaja yang periang, semakin bahagialah hidupku, sempat terpikir ingin menambah anak lagi, tapi yah.. mungkin karena kesibukanku dan suami yang menbuat kita jarang bersama di rumah, akhirnya, rencana untuk menambah anak kubatalkan, atau mungkin lebih tepatnya kutunda, kalau Tuhan masih ngasih, alhamdulillah, kalau tidak, ya gak papa. Sewaktu masih asyik mengingat-ingat perjalanan hidupku, aku dikejutkan dengan kedatangan seorang tamu laki-laki di tempat kerjaku, ia nampak tergesa-gesa, tapi sepertinya ada yang aneh dengan tamuku kali ini, aku bisa melihat dengan jelas jika kumis yang terpasang di atas bibirnya adalah palsu, belum lagi kacamata hitam yang baru dibukanya ketika ia memasuki ruanganku, jaket kulit warna hitam yang selalu dipakainya,  pun juga dengan topi softball yang menutupi kepalanya, ia memakai celana jeans kumal, sepatu kets putih, dan kaos hitam, ia langsung duduk di kursi depan meja kerjaku,

“Mbak bisa jamin kerahasiaan saya?”

Tanyanya seraya menatap lekat kedua mataku, aku yang masih bermain dengan segala heranku, dengan sedikit tergagap menjawab pertanyaannya.

“Bbb..bbisa”

Lelaki itu mengulang kembali pertanyaannya.

“Mbak bisa jamin kerahasiaan saya?”

Setelah agak mampu mengusai diri, aku menjawab dengan sedikit tenang.

“Bisa, kalau boleh tahu, bapak siapa dan ada perlu apa?”

Lelaki itu membetulkan posisi duduknya, sekarang ia semakin merapat ke meja.

“Sebaiknya mbak tidak perlu banyak tahu mengenai jati diri saya, saya kesini, jelas, saya ingin konsultasi psikologis dengan mbak, mbak kan seorang psikolog, mana mungkin saya mau memesan nasi goreng? Nama saya Cecep Tri Santoso.”  Kata lelaki itu semakin membuat heranku menggunung.

“Oke, bapak mau konsultasi apa? Dengan senang hati saya akan mendengar dan memberi solusi semampu saya.” Jawabku dengan tetap waspada sepenuhnya terhadap tamuku kali ini, sekali lagi ia mengulang pertanyaan pembukanya tadi.

“Mbak bisa jamin kerahasiaan saya?”

Sedikit emosi, kuulang jawabanku yang tadi.

“Bisa.”

Tenang, lelaki itu bercerita kepadaku.

“Mbak jangan kaget, mbak pasti sudah mengetahui kabar kaburnya Gunawan Santoso, terpidana atas pembunuhan berencana Dirut PT ASABA, Beedyharto Angsono dan pengawalnya Serka Edy Siyep, pekerjaan saya dulu adalah sipir penjara di LP Cipinang,  kebetulan saya adalah sipir di Blok C, tempat Gunawan ditahan. Ia menghentikan sejenak ceritanya, ia mengahadap ke langit-langit sambil menghirup nafas dalam-dalam, ia kembali matapku,

“Dan saya adalah aktor utama dibalik kaburnya Gunawan Santosa.” ujarnya tenang seakan tanpa perasaan bersalah.

Aku sedang berhadapan dengan buronan Mabes Polri, tenang, tenang, tenang dan tetap tenang. Aku mensugesti diriku sendiri, berusaha membuat diriku biasa saja menghadapi tamuku kali ini.

“Lalu?” Tanyaku singkat.

“Saya tahu, saya sedang dalam Daftar Pencarian Orang Mabes Polri, saya sedang dikejar oleh semua jajaran kepolisian di negeri ini terkait kaburnya Gunawan Santosa, tidak ada pilihan lain bagi saya selain pergi jauh meninggalkan Jakarta, dan sekarang saya berada di Malang, dengan begitu bukan berarti saya bisa lolos dari kejaran polisi, saya tahu, polisi disini juga pasti berusaha mencari tempat persembunyian saya, saya bingung, apa saya harus terus-terusan kabur seperti ini? Di satu sisi, saya juga teringat anak istri saya, mereka pasti sangat mengkhawatirkan keadaan saya, sekarang, ruang gerak saya semakin sempit, saya tidak berani lagi mengaktifkan ponsel saya, pun dengan rekening saya yang sudah diblokir oleh pihak bank. Apa sebaiknya saya menyerahkan diri saja? Bunuh diri? Atau bagaimana?” Tanyanya setelah panjang lebar menceritakan siapa sebenarnya jati dirinya, ia semakin terlihat lemas.

“Pak Cecep, hidup adalah pilihan, saya teringat perkataan seorang filosof Rusia, ia berkata seperti ini, takdir itu tidak ada, manusialah yang menciptakan takdirnya sendiri, dan sekarang Pak Cecep sedang berada di posisi dilematis, meskipun itu juga akibat perbuatan Pak Cecep sendiri, Pak Cecep tahu, perbuatan meloloskan tahanan negara adalah perbuatan yang salah, tapi mungkin karena Pak Cecep tergiur dengan besarnya uang yang akan Pak Cecep terima setelah ikut andil meloloskan Gunawan maka Pak Cecep pun akhirnya memutuskan memilih jalan itu. Tapi, semua telah terjadi, sekarang bukan lagi waktunya menyesali apa yang Pak Cecep lakukan tempo hari, semua telah terjadi, pak. Menurut saya, ada baiknya jika Pak Cecep menyerahkan diri saja kepada pihak yang berwajib, itu mungkin adalah opsi yang terbaik, daripada Pak Cecep terus-terusan kabur seperti ini? Terkurung dalam perasaan bersalah? Selalu saja phobia dengan manusia berseragam coklat tua. Toh, saya yakin jika suatu saat polisi pasti bisa menemukan tempat persembunyian Pak Cecep, bukankah sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya ia akan jatuh juga, iya kan? Jika Pak Cecep memilih opsi menyerahkan diri kepada polisi, keluarga Pak Cecep akan tenang meskipun mereka akan bersedih, Pak Cecep juga tidak akan lagi dikejar-kejar perasaan bersalah, hidup Pak Cecep akan tenang meskipun nantinya Pak Cecep akan menghabiskan hari di balik terali besi. Itu mungkin lebih baik menurut saya daripada Pak Cecep  harus bunuh diri, bukankah bunuh diri itu adalah perbuatan yang paling tidak disukai Tuhan? Tapi sekarang, pilihan ada di tangan Pak Cecep, saya hanya bisa membantu sebatas itu…” Jawabku seraya memposisikan tubuh, intonasi dan gaya pembicaraanku setenang mungkin.

Tamuku itu sekarang memandang ke arah tumpukan koran yang kutata rapi di salah satu sudut ruanganku, lama ia menatapnya, seakan ada sesuatu yang sangat berarti disitu, tak ada yang dilakukannya sekarang, ia masih terus saja menatap tumpukan koran itu, dan akhirnya ia pun berbicara.

“Terima kasih atas solusi mbak, ya, mungkin sudah saatnya dan sebaiknya jika saya menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib saja, sudah saatnya saya akhiri petualangan  ini, tapi, untuk terakhir kalinya, mbak bisa jamin kerahasiaan saya kan?”

“Pasti…” jawabku singkat sembari menganggukkan kepala.

 

 

 

 

 

***

 

                Pagi ini, tepat setelah tiga hari aku menjumpai tamu aneh di ruang kerjaku, aku memasuki ruang kerjaku ketika jarum-jarum kecil di tempat praktikku menunjukkan angka sembilan dan sepuluh kumulai hariku dengan penuh keceriaan, aku senang sekali, semalam suamiku telepon, hari ini ia akan pulang, pun juga setelah melihat nilai try out putriku semata wayang, Gigih, yang mendapat nilai sempurna untuk dua mata pelajaran yang akan diujikan pada Ujian Naional pertengahan bulan ini, kubaca koran yang telah ada di atas meja kerjaku, kubaca headlinenya, disitu tertulis jelas, Sipir Pembantu Lolosnya Gunawan Santosa Ditemukan Meninggal di Sungai Brantas. Aku segera membaca berita di sebelah foto yang menggambarkan sebuah mayat tertelungkup dengan memakai pakaian yang sama persis dengan tamuku tiga hari yang lalu. “Diduga karena tidak kuat menahan beban mental yang begitu berat setelah membantu lolosnya Gunawan Santosa. Sabtu 13 Mei 2006 mayat Cecep Tri Santoso ditemukan mengambang di aliran sungai Brantas di belakang Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang…” Ah, aku tidak mampu melanjutkan membaca berita itu, kepalaku pening, pandanganku seketika itu pula kabur, kemudian menghitam…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: