Selamat Datang di Blog Didik Harianto

Yang Terserak di Ujung Penaku…

Dunia Pendidikan yang Semakin Militeris

Posted by didikharianto pada Januari 1, 2007

                Demonstrasi merupakan suatu hal yang wajar dalam kehidupan berdemokrasi. Apalagi di sebuah Perguruan Tinggi yang nantinya diharapkan akan mampu mencetak kader-kader intelektual penerus bangsa. Tapi patut disayangkan, masih ada beberapa pihak yang tidak begitu paham apa arti demokrasi. Jika demonstrasi sudah dianggap sebagai sesuatu yang nantinya dapat “menggoyang“ kedudukan (baca: kekuasaan), maka pola-pola militeristiklah yang digunakan. Mungkin masih teringat jelas oleh kita ketika beberapa mahasiswa dari Universitas Trisakti Jakarta harus gugur ketika “menggoyang“ kedudukan Soeharto pada “Tragedi Jakarta 1998“ lalu. Pun, dengan apa yang terjadi di IKIP Mataram pada 22 Agustus 2006, mahasiswa yang menuntut dibukanya ruang demokrasi di kampus oleh Rektor yang baru terpilih malah dihadang oleh barisan preman yang sengaja disewa oleh pihak Rektor yang baru. Dalam peristiwa ini, ada satu korban meninggal dunia, M Ridwan (21), mahasiswa jurusan Kimia FMIPA semester V dan tiga mahasiswa lainnya mengalami luka-luka, yaitu, Zainul Mutakin, Heru dan Asmani.

Penyulut dan Kronologis Demonstrasi

Sebelum melakukan aksi tanggal 22 Agustus 2006, pada hari Jumat 4 Agustus 2006, mahasiswa melakukan aksi menuntut agar kampus mereka dibersihkan dari orang-orang tidak dikenal berpakaian safari yang sengaja didatangkan pihak Rektorat. Mahasiswa menganggap keberadaan mereka (baca: orang-orang tidak dikenal/preman) di dalam kampus IKIP Mataram bertentangan dengan kesepakatan
yang disampaikan Walikota Mataram, H.Moh Ruslan yang menyatakan kampus dikosongkan dari semua aparat termasuk preman.

Hari kamis tanggal 10 Agustus 2006, mahasiswa IKIP Mataram menyegel beberapa ruangan utama kampus IKIP Mataram, di antaranya ruangan Rektor, ruangan Biro Administrasi Umum dan beberapa ruangan lain. Aksi penyegelan itu sendiri diawali dengan orasi yang dipusatkan di ruang tengah Sekretariat Pusat kampus setempat. Dalam orasinya, secara bergantian mahasiswa menegaskan penolakannya terhadap SK pelantikan Rektor dan pejabat Rektorat yang disahkan melalui SK No.15/YPIM/VII/2006 tertanggal 25 Juli 2006 yang menetapkan H.L.Said Ruhpina SH sebagai Rektor baru IKIP Mataram menggantikan Drs.H.Fathurrahim.

Puncaknya terjadi pada hari selasa tanggal 22 Agustus 2006 lalu, mahasiswa IKIP Mataram kembali melakukan aksi di halaman gedung Rektorat. Aksi demonstrasi mahasiswa IKIP Mataram dipicu oleh pemberlakuan SK Rektorat IKIP Mataram tentang pengamanan kampus dengan preman sebagai aparatusnya dan menolak proses pemilihan Rektor baru, H.L. Said Ruhpina, S.H., karena dilantik atas keputusan Yayasan Pembina IKIP Mataram, bukan melalui pemilihan Senat Rektor. Keberadaan ratusan preman di sekeliling kampus IKIP Mataram pun mulai terlihat setelah pengangkatan rektor baru. Pada aksi tersebut, mereka menuntut dibukanya ruang dialog antara mahasiswa dengan Rektorat untuk membicarakan persoalan situasi kampus, terutama tentang pengamanan kampus. Sifat anti demokrasi Rektor baru pun terlihat jelas. Ia menolak untuk melakukan dialog dengan mahasiswa. Hal ini memancing kemarahan peserta aksi hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menduduki gedung Rektorat sampai Rektor mau merubah pendiriannya. Tindakan peserta aksi ini memancing watak militerisme dari birokrat kampus. Pihak birokrat kampus mengerahkan preman-preman (yang menurut Rektor baru merupakan satpam kampus yang belum berseragam), preman-preman suruhan Rektorat itu pun menghalang-halangi aksi pendudukan mahasiswa sehingga memancing sebuah bentrokan di antara kedua pihak. Preman-preman bersenjata tajam suruhan Rektorat dengan membabi buta mengejar, menyerang dan mengeroyok mahasiswa-mahasiswa peserta aksi yang tak bersenjata sampai timbul korban di kalangan mahasiswa. Tuntutan damai untuk demokratisasi kampus harus dibayar dengan DARAH mahasiswa!!

Dialog, sifat kritis vs militeris

Siapapun tahu jika kampus adalah sebuah institusi penyelenggara pendidikan tertinggi dibandingkan sekolah untuk siswa SD, SMP dan SMA. Siapapun tahu jika kampus adalah kawah candradimuka bagi setiap mahasiswa untuk mempersiapkan hidupnya kelak. Di kampus, “masyarakatnya“ adalah orang-orang yang selalu menggunakan akal sehat dalam memecahkan suatu masalah dan terjadi adu otak setiap harinya. Tapi tidak seperti yang terjadi di IKIP Mataram beberapa waktu lalu, orang-orang di dalamnya menggunakan kekerasan dalam memecahkan suatu masalah dan terjadi adu otot. Jika H.L.Said Ruhpina SH memang benar-benar menyalahi prosedur dalam tata cara pemilihan Rektor dan diprotes oleh mahasiswa, seharusnya ia lebih membuka dan mengedepankan ruang dialog bersama mahasiswa. Diharapkan nantinya ada suatu titik temu yang benar-benar bisa memuaskan semua pihak. Tidak pernah ada kekuatan otot yang bisa menyelesaikan masalah. Tanpa didasari oleh kejernihan pikiran atau otak, niscaya suatu masalah tidak akan dapat terselesaikan dengan baik .

Sebenarnya masih banyak sekali kasus-kasus sebelum tragedi IKIP Mataram yang menunjukkan dengan jelas watak anti demokrasi dan militeristik dari pihak birokrat kampus pada mahasiswanya yang menuntut demokratisasi kampus. Diantaranya adalah kasus STIE-YAI Jakarta, STIESIA Surabaya, UNILA Kampung, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa tindakan-tindakan represif yang dilakukan oleh penyelenggara pendidikan menunjukan bahwa dunia pendidikan menjadi semakin militeris karena telah membunuh sikap kritis dari mahasiswa dengan berbagai tindakan teror dan ancaman. Militerisme menggunakan premanisme sebagai topeng melakukan itu semua. Dan akhirnya mari kita teriakkan bersama, HENTIKAN MILITERISME DI TANAH SUCI, KAMPUS!!!

Satu Tanggapan to “Dunia Pendidikan yang Semakin Militeris”

  1. surya zahrani said

    assalamu alaikum,,,aq sngat tertarik dgn berbagai artikel yang km muat di berbagai situs,dan bisa bantu aq nggak buatkan sebuah contoh proposal tentang PENGGUNAAN PENDEKATAN PRAGMATIK DALAM KETERAMPILAN BERBICARA DI SMP??bantuanmu sangat berarti bagiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: