Selamat Datang di Blog Didik Harianto

Yang Terserak di Ujung Penaku…

Sebuah Ritus Perjalanan

Posted by didikharianto pada Januari 1, 2007

1)

Kekasih, adalah bulan benderang yang mengajarku tentang kasih sayang. Tetapi aku tak ingin mencintaimu seperti mencintai rembulan, karena itu berarti aku tak bisa memelukmu dan memberi ciuman.

Adalah kecantikan tubuhmu yang aku rindu, sedangkan cantik ruhmu telah aku gauli setiap waktu. Tetapi melankolia para pecinta menganggap itu dosa. Bagiku tubuh itu yang layak kupeluk cinta, meski tak kekal dan niscaya menua.

Kekasih, kuingin mengusir rembulan karena ia telah menghuni kamar yang seharusnya milikmu. Sedangkan aku takut tidur sendirian. Meski dengan ruhmu aku selalu bercakap, bercengkerama, tanpa tubuhmu hanya seperti hantu rasanya.

Semalam aku bermimpi, melihat tubuhmu mengeras besi, menjelma sepahat patung yang dingin. Begitu angkuh, begitu jauh. Aku takut mimpi itu menjadi nyata, karena patung tak bisa naik kereta menuju kota pertemuan kita. Kalaupun bisa, tentu tak enak dipeluknya.

2)

Kekasih, mungkin kau akan menjadi semakin ragu pada diriku, pada dirimu sendiri. Maka aku akan menyarankan untukmu nmendengarkan detak jantungmu sendiri, dan aku akan bersiap-siap terbakar matahari begitu fajar pecah nanti. Kita sama tahu, cinta adalah nama lain dari keraguan. Tetapi, sayang, bukankah keraguan pula yang melahirkan puisi-puisi kita? Aku telah begitu akrab dengan ruhmu yang ragu, bukankah ruh kita telah lama…..

Tubuhmu adalah jawaban setiap keraguanmu, keraguanku. Dialah prosa yang selama ini belum pernah berhasil aku tuliskan. Kerinduanku padamu adalah kerinduanku pada tubuhmu, karena sekali pernah kuacak rambutmu dan sejak itu kutukan telah melekat di rajah telapak tangan kananku. Meski sering aku berdamai dengan dunia, dengan jarak tempuh kereta atau sejauh dering pulsa. Artinya, telah sekian lama aku coba mengingkari tubuhmu yang seluruhnya tersenyum.

Suratku ini menakutkan, mungkin katamu. Apakah yang engkau takutkan, Sayang? Kecuali hantu waktu dan bayang-bayang? Keraguanmu adalah keraguanku. Engkau bersembunyi di balik baju kerjamu, mencoba menipu waktu, sedangkan aku bersembunyi di balik rambut panjangku; tanda penantianku pada tubuhmu. Aku tahu, kurasakan pula detak kecemasan itu. Ketakutan akan polusi dalam aura yang telah sekian lama menghiasi sajak-sajak kita. Tetapi tak perlu kita ingkari jantung sendiri, karena bila ia jadi malfungsi, biaya operasi mahal sekali.

3)

Kekasih, ini adalah suratku yang terakhir untukmu, mungkin. Mimpiku menjadi kenyataan, bahkan lebih buruk. Tubuhmu benar menjelma patung besi yang bisu, bahkan ruhmu pun tak mau lagi bercakap denganku. Meski masih terlihat segaris senyuman dari bibirmu yang masih saja indah meski telah mengeras-mendingin.

Angin telah mengabarkanku tentang dirimu yang berubah dan ruhmu tak lagi datang menyapa. Maka aku telah menarik pelajaran darinya. Adalah aura kita yang ingin kau pelihara, bukan cinta, karena kita memiliki definisi yang berbeda atasnya. Sementara aku, calon penyair yang pemurung ini, kini asyik memandangi potret wajahmu yang tersisa (karena tubuhmu telah tak mungkin lagi kurindu) sambil membayangkan kisah asmara dalam prosa yang enak dibaca, bukan puisi yang seringkali nirlogika. Aku mulai melirik, mencari-cari lagi dimana kusimpan kotak ponselku.

Kekasih, akan kusimpan kutukanmu di telapak tangan kananku dan semoga ponselku akan semakin panas olehnya sehingga akan segera kutemukan nada (meski patah-patah) bersamanya. Lalu engkau akan tetap membatu menunggu sepotong hati yang hangat (bukan hatiku yang merindu tubuhmu) untuk melelehkanmu kembali menjadi adonan yang cair. Mungkin pula engkau akan menunggu bayang-bayang itu dengan setia, begitu kaupercayai sebagai belahan jiwa.

Diriku yang jahat, akan mendoakan agar mentari cepat meninggi, agar bayang-bayang itu menderita. Diriku yang lain akan menyerah kepada embun dini hari. Biasa, mengadukan luka.

Luka biasanya akan memberiku puisi, tetapi aku sedang puasa, sayang. Puisi membuatku syahwat akan dirimu, karena itu aku berpuasa, puasa puisi. Tetapi engkau tak perlu peduli, karena ini tak ada hubungannya sama sekali dengan dirimu yang telah menjelma batu; kenyataan yang selalu memedihkan mataku setiap kali ku teringat itu.

Aku akan masuk kembali ke bilikku yang sumpek dengan berbagai macam bau (sayangnya tak ada bau keringatmu). Aku akan bunuh diri, terjun ke kedalaman palung paling gelap, mungkin disanalah aku ditetapkan berada. Di Negeri bayang-bayang, negeri hantu. Mungkin disitu akan kutemukan ruhmu yang (tak lagi) ragu. Meski takkan kujumpai lagi tubuhmu (yang sudah mematung itu, ingat?). Hanya ruhmu, hanya ruhmu.

Ya, Gigih, aku akan menunggu ruhmu disitu. Mungkin takkan pernah bertemu. Mungkin akan ketemu ruh-ruh yang lain, hantu-hantu yang lain. Tetapi satu hal sudah kupastikan, akan kunyalakan terus ponselku. Siapa tahu akan kuterima smsmu, siapa tahu?

Gigih, Gigih yang berani memperkenalkan diri, menyapa dengan sekian frasa, yang dermawan memberi sanjungan; terima kasih untuk sanjunganmu.

Senyampang memang demikian adanya, bahwa puisi saya yang biasa-biasa saja itu mampu memerdekakan seorang dara dari kemelut perang (kini, beranak pinak duka cita). Tentu, ini merupakan rahmat tersendiri bagi saya.

Meski begitu fitri, bagi saya ini belum apa-apa benar, belum mampu untuk menyibak persoalan alam yang beserba dan banyak rahasia. Angin masih menderu, laut masih bergelombang liar. Dan dimana-mana penyerbuan jalan terus, kematian menanti; selalu.

Ah Gigih, Gigih yang berani memperkenalkan diri, menyapa dengan sekian frasa, yang dermawan memberi sanjungan.

Jikalau Gigih bertanya, “Kenapa aku gagap membuat puisi yang bermutu? Kenapa kata-kata pop acap kali lancing menyelusup di sela-sela kata-kata yang berpeluh aku temukan?” Bagi saya itu sudah merupakan suatu puisi. Puisi bukanlah melulu kata-kata yang sukar. Kadangkala dalam pusi yang ditulis dengan kata-kata yang sederhana acap kali ditemukan keindahan dan makna yang luar biasa. Lebih baik kecil tapi dalam daripada luas tapi ngambang.

Kalau mengutuk, biasakanlah dengan bahasa kapas; Ringan dan lembut. Kalau menyanjung, pakailah bahasa pedang; Lurus tapi tajam. Sebab penyair bukanlah preman yang mengumpat dalam bahasa terminal. Bukan pula remaja mabuk tidak karuan gara-gara menenggak sebotol cinta. Ia adalah orang waras yang sanggup menerjemahkan segala gairah dalam pikiran dan perasaan yang zam-zam.

Namun bukan berarti penyair itu adalah dewa atau sok menjadi dewa. Penyair juga manusia biasa; pernah berdusta, bersalah tidak tepat janji, banyak alasan dan segerobak kejelekan manusia. Tapi puisi itu harus jujur. Jujur terhadap dirinya dan di luarnya penyair boleh berprofesi seorang maling atau koruptor. Tapi jangan sekali-kali puisi lahir dari hasil korupsi atau maling. (epigon atau plagiat)

Nah, sekarang coba amati sekeliling Gigih, lihat satu benda saja, lalu cobalah bermain-main dengan benda itu. Sesudah itu bertanyalah, “Kenapa ia bernama demikian?” dan “darimana asalnya?” dan “kenapa ia sampai di depanku?” lalu “siapa aku?”.

(Ini hanya permainan sederhana, jika tidak begitu menarik jangan diteruskan. Tapi saya sering melakukan simulasi ini bila sedang bersendiri, dan kadang saya sering bingung sendiri. Pada saat-saat beginilah, saya kebelet ingin menulis sesuatu).

Gigih, Gigih masih membaca surat saya?

Gigih, Gigih yang berani memperkenalkan diri, menyapa dengan sekian frasa, yang dermawan memberi sanjungan.

Persisnya tanggal 20-24 Nopember 2006, saya dan beberapa pegiat UKM Penulis UM yang sepakat akan mengadakan acara bertajuk “Tinta Juang Sang Penulis” yang di dalamnya banyak sekali acara yang berhubungan dengan dunia kepenulisan, salah satunya adalah pameran karya pegiat UKM Penulis UM di Joglo Perpustakaan UM. Senyampang Gigih mau datang. Tentu, saya amat senang benar. Saya taunggu kedatangannya..

Namun sebelum Gigih jadi ke acara saya, Gigih tahu tidak? Ketika saya menulis surat ini panas masih gemar turun dan berlarian di bumi kota yang damai. Padahal saya kira di Nopember pertama ini kota kami bakal bercerai dengan panas yang suka menjinjing aroma kering itu. Aneh, entah kenapa, akhir-akhir ini musim tidak lagi disiplin.

Dan di dalam kamar saya masih terus membikin satu ruang penuh perabot imaji; tentang wajahmu yang jauh.

Begitulah..

Pinggiran Kota Malang, 3 Nopember 2006.

Di tempat ini aku meminum secawan keresahan sepanjang hari. Gelisah itu menyerangku kembali. Aku tengah mengundang kembali seluruh momentum yang pernah hadir, terlewati bersamamu.

Disini, aku terasing!!

Dan pagi ini, aku berada di pinggir sungai. Kupikir, inilah sungai kecemasan yang telah lama mengalir diantara tanah kerinduanku untukmu. “Barangkali… inilah cinta, yang kau kirim lewat diam dan senyum. Pun ketika kau minta, sebagian hari-harimu untuk kupulas dengan warna-warnimu.” “Barangkali … inilah cinta, yang kau kirim lewat diam dan senyum, pun ketika, sebagian hari-hariku untuk kau coret dengan puisi dan tembang.”

Sebuah tembang mangalun, mengiringi kesendirianku yang sudah teramat sempurna.

Aku datang ke dalam pelukan malam, mencoba kembali mengakrabi sepi, menyetubuhi sunyi. Dan tuhan pun ingin bertemu. Padahal engkau sudah hilang dalam ingatan. Lalu kita putuskan untuk menjadi pejalan malam menelusuri setiap liku dari keresahan an rasa cemas. Kini, kita menjadi manusia yang haus petualangan. Menjelajahi rimba kata-kata. Di bukit itu, kita temukan lampu-lampu kota bagai mahkota. Tapi rembulan beku dalam diam.

Akhirnya aku kembali ke kota ini. Tempatmu tinggal dan berdiam diri, menekuri sepi. Sudah sejak lama kucium kota ini dari jauh. Dan telah kuhabiskan hari di atas roda-roda besi bersamamu.

Akhirnya, pertemuan berakhir dengan perpisahan. Esok, akan kutengok kembali kotamu. Meski aku tak tahu, esok yang mana, aku harus pulang!!

Kau datang mengunjungi kotaku. Meski aku tahu, kau datang bukan untukku. Seperti rasa sepi yang tak meminta simpati. Aku ucapkan padamu, selamat datang!!

Aku kehilanganmu setelah kepergian pada siang yang kering. Dan kepergian selalu menyisakan tangisan. Meski teramat lirih untuk disebut sebagai tangisan.

Tadi malam aku merasa sepi menggerogoti jiwa, sebab malam yang lalu kau masih hadir disini, bercerita tentang anak-anak sepi yang tumbuh besar menjadi sunyi.

Dan malam ini, aku merindukanmu…

========================================================================

Kamu keliru, dan semua orang lain keliru bila berkata bahwa aku tak mencintaimu, manis. Benar dan adalah benar semata jika aku memang mencintaimu. Benar, sungguh benar bila aku turut bersusah hati melihatmu jadi seorang penyedih. Dan adalah benar yang sungguh-sungguh benar, bilaku dengan rapuh dan kokohku selalu hendak memintamu percaya; jadikanlah ku tongkat bila kau rapuh.

Tetapi kita tinggal di dunia yang aneh. Dunia yang sudah dikapling dan disekat-sekat. Dunia yang terdiri dari tembok-tembok pemisah dan jurang-jurang pembeda. Tuhan telah menciptakan cinta yang sempurna. Dan manusia, dengan santun mengatasnamakan asma Tuhan untuk mengatur kehidupan cinta sebagaimana mereka mengatur tumbuhnya bayam di perpetakan lahan pertanian. Cintaku kepadamu ditumbuhkan sendiri oleh Tuhanku. Dan, bila aku berkata; “Aku tak bisa mencintaimu,” Ini karena dunialah yang membatasiku. Dalam norma yang bahkan bisa menjadi malaikat dan polisi pengawas, bahkan saat kita buang air besar atau onani sekalipun, bahkan ketika kita sedang merasa di ujung sunyi –ia(dunia dan sistem nilai)- giat nian menjadi hantu.

Tradisi menyebutkan:

Bila ada seorang pria mencinati wanita dan sebaliknya, dan apabila keduanya memang telah tumbuh perasaan yang sama. Maka, sungguh ada baiknya orang-orang yang berpasangan itu kita sebut sebagai kekasih, suami istri, lingga dan yoni, terang dan gelap, sejoli yang disatukan oleh karena cinta Tuhan.

Tetapi manisku, menjadi apa yang disebut kekasih, suami dan istri, lingga dan yoni, terang dan gelap, hanyalah sebauh hubungan yang bersyarat, yang memateraikan ikatan satu sama lain sampai ke dalam jiwa. Menjadi kekasih sama artinya menginginkan sesuatu dari yang lain. Cinta yang diajarkan Tuhan sendiri, yang harus mencapai titik kosong dalam kepenuhan isinya, yang oleh karenanya tak punya pinta, mencapai titik “nothing”, menjadi koyang dalam hubugan sepasang kekasih menurut materai norma. Menjadi sepasang terang dan gelap hanya menjadi pemisah belaka. Selalu bersyarat.

Adakah cinta memerlukan janji, komitmen, sumpah, iman dalam kawinan di Masjid atau di Gereja? Pengesahan di KUA? Ia tak pernah memerlukan apa-apa. Ia ada untuk dirinya saja. Tak perlu lagi ada cincin yang melingkar di jari manis, tak ada mas kawin. Dengan begitulah cinta bisa dirayakan. Sebab ia terlampau kuat untuk diteguhkan oleh sesuatu yang lain di luar dirinya.

Maka yang lebih penting dari segala-galanya, menikahlah dengan cincin yang terbuat dari hatimu sendiri.

Kedatanganku di hidupmu bukanlah suatu kebetulan semata. Tuhan sendirilah yang mempertemukan kita.

Gigihku, inikan yang kau rasakan!!!

Mungkin aku telah salah menilai sikapmu. Aku tahu, yang kau cari bukan laki-laki macam aku. Aku bukan laki-laki yang bisa memikat hatimu, bukan juga laki-laki yang bisa mematahkan semua idealismemu, bukan. Aku tak lebih dari sekedar laki-laki yang numpang lewat dalam kehidupanmu. Aku tak tahu jika saat ini mungkin kau menginginkan aku pergi dari kehidupanmu secara diam-diam. Karena jelas tidak mungkin kau mengusirku terang-terangan, karena bagaiamanapun kau akan merasa bersalah. Bukankah kau pernah berjanji setia?

Aku tak seharusnya menginginkan diakui sebagai aku yang dikenal olehmu hanya semata-mata huruf. Ya, hanya huruf-huruf!! Aku harus menyadari bahwa aku telah dijadikan sebagai dadu olehmu. Bukankah laki-laki terbiasa menjadikan hidupnya sebagai permainan? Lagi-lagi aku harus mengakui bahwa akulah taruhan dalam permainanmu kali ini. Jujur, aku terlanjur jatuh cinta pada matamu. Aku telah terbiasa memahami sorot tajam matamu. Lantas, salahkah aku jika aku telah dengan benar-benar jatuh cinta? Bukan semata-mata dadu yang dilempar ke udara, atau sebuah pertaruhan antara dua sisi mata uang.

Tapi mungkin harus kuakui, aku benar-benar kalah. Aku harus menjadi pecundang pada permainanmu kali ini, selamat, kau yang jadi pemenangnya!! Matamu ternyata tak pernah menyimpan cinta untukku, pun juga hatimu. Maka kubiarkan luka ini terbakar lagi. Menjadikannya abu mungkin lebih baik. Agar tak lagi kukenali sosok cinta, takkan kutemui lagi keindahannya. Sebab aku telah menjadi abu. Biarkan mataku tertutup atas segala hal yang berlabel cinta. Sebab, cinta adalah dusta!!

Ketika mata-mata ini mulai tertutup dari bayang-bayangmu dan kantung-kantung rindu yang tersemat di hatiku pun pecah, waktu pun memetakan kaki-kaki kita yang berjalan menjauh. Cinta, tinggal mimpi yang menguap oleh keangkuhan.

Gih,

Aku mungkin sedikit menyesali pertemuan kita malam itu, meski awalnya tak berarti, namun akhirnya aku tenggelam dalam percintaan tanpa judul ini.

Gih,

Maaf kalau aku terlalu dalam menerjemahkan rindu ribuan kilometermu yang begitu mahal sebagai cinta.

Gih,

Dalam rentang waktu ratusan malam, milyaran detak jantung kau bahkan tak terbaca.

Gih,

Maaf berikutnya atas jejakku yangterserak di dunia indahmu.

Gih,

Kerinduan yan melupa-luap ini ternyata menjadi jenuh dan kedinginan kita tak mampu membekukannya, ia pun mengalir tumpah namun tak lagi menjadi milikmu, milik kita.

Gih,

Meskipun cinta telah kau bunuh, tapi kepingan itu tak lagi utuh.

Gih,

Kisah kita lukisan imajiner terindah menjelang usia ke 20 usiaku. Kini, kita bebas bercerita, tertawa, mencela, juga memilih jalan kita masing-masing…

Kadang aku jatuh cinta. Entah pada siapa. Hanya mencinta tanpa dicintai. Rindu pada sesuatu yang tak ada. Mungkin aku hanya mencintai rasa yang tumbuh, euphoria yang membuncah, bermain bersamanya, kemudian meninggalkannya jika bosan. Namun aku selalu kembali untuk mencintai. Aku tak juga jera mencinta.

Gigih, aku cinta diriku ketika aku jatuh cinta. Jiwaku bernyayi riang. Kehangatan menyelusup masuk dalam batinku. Duniaku mekar. Harum yang selalu kucari. Matahari hanya menyinariku. Hujan tercipta untukku dan pelangi tersenyum padaku. Hanya aku. Langkahku ringan. Tidak, aku tak melangkah ketika jatuh cinta. Aku melayang bersama angin. Hinggap di tempat yang kusuka. Berpijak di tanah yang kuinginkan. Bersua dengan euphoria kembali dan melambaikan selamat tinggal pada luka. Tapi, aku benci ketika diriku tak mencinta. Duniaku sepi, kosong. Tak ada lagi keramaian, sunyi semakin mengakrabiku. Tapi, dengan siapa (kini) aku harus menyatukan hatiku? Aku merasa benar-benar menyayangimu. Andai kau tahu, betapa cinta ini benar dan besar adanya…

Satu Tanggapan to “Sebuah Ritus Perjalanan”

  1. ceileeee… segitunya.
    urusan cinta…aaa.. aja…aaa…aa
    hehehe…

    ya, begitulah cinta pada perempuan. kurasa, nikmatnya hanya pada saat kita penuh berharap. saat kita cuma mampu curi-curi pandang. saat kita selalu menginginkan kehadirannya.

    namun usai semua berada pada kata: ya, aku juga…
    nikmatnya sirna. yang tertinggal hanyalah tanggung-jawab.

    hahaha…
    terus menulis boss…
    oyi…?!
    ledome…ledome…

    tengkyu,
    Ghurrun A. Ahmadi
    http://adibahmadi.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: